‘Bunda, kalau kita susah, kita harus tetap ingat Allah ya..’, tanya abang Hagi pada suatu hari.
‘Iya, nak. Tapi tidak hanya saat susah, saat senang juga.’
‘Abang, pernah mendapat cobaan yang abang rasa sangat berat..’, katanya dengan nada sedih.
‘Oh, ya…?’
Wah, sungguh aku tidak dapat memperkirakan cobaan berat apa yang dimaksud Hagi.
‘Cobaan apa itu, nak?’
‘Itu, waktu PSP abang hilang. Abang kan sedih, tapi abang tidak marah dan tetap sholat juga berdoa. Dan meskipun kita belum beli lagi, tapi Bunda dapat rejeki dari kost-kostan dan orang sewa ruko.’
Tampilkan postingan dengan label Celotehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Maret 2011
Selasa, 28 Desember 2010
Kampungan dan Bataman
Sebagai keluarga kecil yang merantau seperti kami, kunjungan salah satu anggota keluarga besar adalah saat yang sangat dinantikan.
Kali ini, yang datang berkunjung adalah keluarga kakak ipar lengkap dengan tiga orang anak perempuannya. Meskipun akhir tahun 2009, Brein sudah pernah bertemu, tetap saja pertemuan akhir tahun 2010 menjadi sesuatu yang asing, tapi tidak untuk abang Hagi.
Abang Hagi sudah cukup besar untuk duduk bersama dan aktif menemani dan bercerita sejak mereka datang dari bandara udara.
Bagaimana dengan si adik? Banyak celotehannya yang membuat ger-geran kami semua.
Misalnya ketika bungsuku yang berumur 5.5 tahun ini ditanya oleh Bibinya,”Adik Brein, ajak ini kak Fany main. Sepertinya mainannya bagus ya…”
“Sinilah kalau mau, datang sendiri ke kamar kan bisa. Kalau nggak mau ya, nggak apa-apa kok… terserah saja.”
Kali lain Brein bertanya,’Bibi, mau ikut kami ke Singapore ya..’
‘Iya, dik..Bibi belum pernah ke Singapore, nanti ajari ya.’
‘Tapi, Bibi harus kerja seperti Bunda biar dapat uang Singapore. Uang Batam dan Uang kampung, tidak bisa dipakai.’
‘Uang Singapore itu seperti apa?’, tanya Bibinya.
‘Ya, uang Singapore lah.. mana ada di kampung uang Singapore. Bibi ini kampungan lah.. nggak tahu uang Singapore.’
‘Iya, ya… Bibi ini kampungan nggak tahu uang Singapore. Kalau Bibi kampungan, adik yang tahu uang Singapore namanya apa?’
‘Ya, orang Bataman lah…’
Grr..grr… kami semua tergelak mendengar istilah Bataman dari Brein. Ada-ada saja…
Kali ini, yang datang berkunjung adalah keluarga kakak ipar lengkap dengan tiga orang anak perempuannya. Meskipun akhir tahun 2009, Brein sudah pernah bertemu, tetap saja pertemuan akhir tahun 2010 menjadi sesuatu yang asing, tapi tidak untuk abang Hagi.
Abang Hagi sudah cukup besar untuk duduk bersama dan aktif menemani dan bercerita sejak mereka datang dari bandara udara.
Bagaimana dengan si adik? Banyak celotehannya yang membuat ger-geran kami semua.
Misalnya ketika bungsuku yang berumur 5.5 tahun ini ditanya oleh Bibinya,”Adik Brein, ajak ini kak Fany main. Sepertinya mainannya bagus ya…”
“Sinilah kalau mau, datang sendiri ke kamar kan bisa. Kalau nggak mau ya, nggak apa-apa kok… terserah saja.”
Kali lain Brein bertanya,’Bibi, mau ikut kami ke Singapore ya..’
‘Iya, dik..Bibi belum pernah ke Singapore, nanti ajari ya.’
‘Tapi, Bibi harus kerja seperti Bunda biar dapat uang Singapore. Uang Batam dan Uang kampung, tidak bisa dipakai.’
‘Uang Singapore itu seperti apa?’, tanya Bibinya.
‘Ya, uang Singapore lah.. mana ada di kampung uang Singapore. Bibi ini kampungan lah.. nggak tahu uang Singapore.’
‘Iya, ya… Bibi ini kampungan nggak tahu uang Singapore. Kalau Bibi kampungan, adik yang tahu uang Singapore namanya apa?’
‘Ya, orang Bataman lah…’
Grr..grr… kami semua tergelak mendengar istilah Bataman dari Brein. Ada-ada saja…
Rabu, 26 Mei 2010
Penjual Rujak
Hari sangat panas, ketika aku melewati kedai rujak. Menurut temanku, rujak di kedai sederhana itu enak. Jadi kupikir, ada baiknya aku cicipin hasil racikan rujaknya.
Seorang ibu yang sudah memasuki usia pensiun menyambutku. Setelah menanyakan apa yang ingin kupesan, si ibu penjual rujak segera meracik pesananku.
Sambil mengulek di cobek batu yang berukuran besar, beliau bercerita bahwasanya untuk orang seusianya, ibu itu merasa nggak nyaman kalau cuma duduk-duduk nggak ada kerjaan.
Ibu ini berasal dari Yogjakarta, tepatnya di lereng gunung kidul. Beliau merantau ke Batam sudah sejak 3 tahun lalu dan tinggal bersama anak, menantu dan cucu perempuannya.
Menurutnya, meracik rujak sudah dijalaninya sejak dahulu kala.
Pembicaraan berlanjut ke masalah pemilu pemilihan kepala daerah langsung yang akan ditutup beberapa menit lagi di pukul 13:00 PM. Ibu penjual rujak memilih untuk tidak memakai hak pilihnya karena menurutnya, siapapun yang dipilih, selama ini tidak terlihat ada perubahan.
Tak berapa lama, rujak pesananku sudah siap. Setelah membayar harga seporsi rujak cingur dan seporsi rujak buah, aku segera meluncur ke rumah.
Seorang ibu yang sudah memasuki usia pensiun menyambutku. Setelah menanyakan apa yang ingin kupesan, si ibu penjual rujak segera meracik pesananku.
Sambil mengulek di cobek batu yang berukuran besar, beliau bercerita bahwasanya untuk orang seusianya, ibu itu merasa nggak nyaman kalau cuma duduk-duduk nggak ada kerjaan.
Ibu ini berasal dari Yogjakarta, tepatnya di lereng gunung kidul. Beliau merantau ke Batam sudah sejak 3 tahun lalu dan tinggal bersama anak, menantu dan cucu perempuannya.
Menurutnya, meracik rujak sudah dijalaninya sejak dahulu kala.
Pembicaraan berlanjut ke masalah pemilu pemilihan kepala daerah langsung yang akan ditutup beberapa menit lagi di pukul 13:00 PM. Ibu penjual rujak memilih untuk tidak memakai hak pilihnya karena menurutnya, siapapun yang dipilih, selama ini tidak terlihat ada perubahan.
Tak berapa lama, rujak pesananku sudah siap. Setelah membayar harga seporsi rujak cingur dan seporsi rujak buah, aku segera meluncur ke rumah.
Langganan:
Postingan (Atom)