‘Bunda, kalau kita susah, kita harus tetap ingat Allah ya..’, tanya abang Hagi pada suatu hari.
‘Iya, nak. Tapi tidak hanya saat susah, saat senang juga.’
‘Abang, pernah mendapat cobaan yang abang rasa sangat berat..’, katanya dengan nada sedih.
‘Oh, ya…?’
Wah, sungguh aku tidak dapat memperkirakan cobaan berat apa yang dimaksud Hagi.
‘Cobaan apa itu, nak?’
‘Itu, waktu PSP abang hilang. Abang kan sedih, tapi abang tidak marah dan tetap sholat juga berdoa. Dan meskipun kita belum beli lagi, tapi Bunda dapat rejeki dari kost-kostan dan orang sewa ruko.’
Tampilkan postingan dengan label Anak-anakku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-anakku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Maret 2011
Minggu, 06 Februari 2011
Seni Berbagi
Suatu siang, dalam suatu perjalanan berangkat sekolah, abang Hagi bercerita kalau dia sudah mendermakan uang sepuluh ribu kepada orang yang datang meminta sumbangan ke rumah kami.
Seingatku waktu itu, Hagi tidak punya uang kecuali selembar lima puluh ribuan yang didapat dari ayahnya beberapa minggu sebelumnya.
‘Kok, abang punya uang? Dari mana?’
‘Kan abang pernah dikasih uang oleh ayah’
‘Iya, tapi kan lima puluh ribuan, kok bisa punya sepuluh ribuan’
Dengan berbelit-belit abang Hagi menjawab cecaran pertanyaan dari bundanya. Akhirnya keluarlah pengakuan,’Sebenarnya yang abang kasih tuh uang lima puluh ribuan, cuma abang takut Bunda marah.’
‘Abang, Bunda senang abang Hagi mau berbagi. Tapi Bunda lebih senang abang memberikan kepada yang membutuhkan secara langsung.’
‘Oh, seperti Bunda beli susu bubuk untuk cucunya ibu tukang cuci di rumah kita itu ya.’
‘Iya, nak, seperti itu. Lain kali jangan diulang ya..’
Dan ketika pada kesempatan lain, saat ibu tukang cuci datang malam-malam menemuiku dan ingin meminjam uang karena ingin memberi uang saku kepada keponakannya yang akan pulang kampung. Abang Hagi bertanya:
‘Ibu itu kenapa Bunda? Tadi pagi dia tanya jam berapa Bunda pulang dari Singapore.’
‘Oh, ibu itu mau pinjam uang untuk keponakannya.’
‘Kasih ajalah Bunda, tidak usah pakai pinjam segala.’
‘Abang, ibu itu mau meminjam karena ingin memberi sesuatu untuk saudaranya, lagipun kita tidak tahu pasti apakah keponakannya perlu dibantu atau tidak.’
Seingatku waktu itu, Hagi tidak punya uang kecuali selembar lima puluh ribuan yang didapat dari ayahnya beberapa minggu sebelumnya.
‘Kok, abang punya uang? Dari mana?’
‘Kan abang pernah dikasih uang oleh ayah’
‘Iya, tapi kan lima puluh ribuan, kok bisa punya sepuluh ribuan’
Dengan berbelit-belit abang Hagi menjawab cecaran pertanyaan dari bundanya. Akhirnya keluarlah pengakuan,’Sebenarnya yang abang kasih tuh uang lima puluh ribuan, cuma abang takut Bunda marah.’
‘Abang, Bunda senang abang Hagi mau berbagi. Tapi Bunda lebih senang abang memberikan kepada yang membutuhkan secara langsung.’
‘Oh, seperti Bunda beli susu bubuk untuk cucunya ibu tukang cuci di rumah kita itu ya.’
‘Iya, nak, seperti itu. Lain kali jangan diulang ya..’
Dan ketika pada kesempatan lain, saat ibu tukang cuci datang malam-malam menemuiku dan ingin meminjam uang karena ingin memberi uang saku kepada keponakannya yang akan pulang kampung. Abang Hagi bertanya:
‘Ibu itu kenapa Bunda? Tadi pagi dia tanya jam berapa Bunda pulang dari Singapore.’
‘Oh, ibu itu mau pinjam uang untuk keponakannya.’
‘Kasih ajalah Bunda, tidak usah pakai pinjam segala.’
‘Abang, ibu itu mau meminjam karena ingin memberi sesuatu untuk saudaranya, lagipun kita tidak tahu pasti apakah keponakannya perlu dibantu atau tidak.’
Selasa, 28 Desember 2010
Kampungan dan Bataman
Sebagai keluarga kecil yang merantau seperti kami, kunjungan salah satu anggota keluarga besar adalah saat yang sangat dinantikan.
Kali ini, yang datang berkunjung adalah keluarga kakak ipar lengkap dengan tiga orang anak perempuannya. Meskipun akhir tahun 2009, Brein sudah pernah bertemu, tetap saja pertemuan akhir tahun 2010 menjadi sesuatu yang asing, tapi tidak untuk abang Hagi.
Abang Hagi sudah cukup besar untuk duduk bersama dan aktif menemani dan bercerita sejak mereka datang dari bandara udara.
Bagaimana dengan si adik? Banyak celotehannya yang membuat ger-geran kami semua.
Misalnya ketika bungsuku yang berumur 5.5 tahun ini ditanya oleh Bibinya,”Adik Brein, ajak ini kak Fany main. Sepertinya mainannya bagus ya…”
“Sinilah kalau mau, datang sendiri ke kamar kan bisa. Kalau nggak mau ya, nggak apa-apa kok… terserah saja.”
Kali lain Brein bertanya,’Bibi, mau ikut kami ke Singapore ya..’
‘Iya, dik..Bibi belum pernah ke Singapore, nanti ajari ya.’
‘Tapi, Bibi harus kerja seperti Bunda biar dapat uang Singapore. Uang Batam dan Uang kampung, tidak bisa dipakai.’
‘Uang Singapore itu seperti apa?’, tanya Bibinya.
‘Ya, uang Singapore lah.. mana ada di kampung uang Singapore. Bibi ini kampungan lah.. nggak tahu uang Singapore.’
‘Iya, ya… Bibi ini kampungan nggak tahu uang Singapore. Kalau Bibi kampungan, adik yang tahu uang Singapore namanya apa?’
‘Ya, orang Bataman lah…’
Grr..grr… kami semua tergelak mendengar istilah Bataman dari Brein. Ada-ada saja…
Kali ini, yang datang berkunjung adalah keluarga kakak ipar lengkap dengan tiga orang anak perempuannya. Meskipun akhir tahun 2009, Brein sudah pernah bertemu, tetap saja pertemuan akhir tahun 2010 menjadi sesuatu yang asing, tapi tidak untuk abang Hagi.
Abang Hagi sudah cukup besar untuk duduk bersama dan aktif menemani dan bercerita sejak mereka datang dari bandara udara.
Bagaimana dengan si adik? Banyak celotehannya yang membuat ger-geran kami semua.
Misalnya ketika bungsuku yang berumur 5.5 tahun ini ditanya oleh Bibinya,”Adik Brein, ajak ini kak Fany main. Sepertinya mainannya bagus ya…”
“Sinilah kalau mau, datang sendiri ke kamar kan bisa. Kalau nggak mau ya, nggak apa-apa kok… terserah saja.”
Kali lain Brein bertanya,’Bibi, mau ikut kami ke Singapore ya..’
‘Iya, dik..Bibi belum pernah ke Singapore, nanti ajari ya.’
‘Tapi, Bibi harus kerja seperti Bunda biar dapat uang Singapore. Uang Batam dan Uang kampung, tidak bisa dipakai.’
‘Uang Singapore itu seperti apa?’, tanya Bibinya.
‘Ya, uang Singapore lah.. mana ada di kampung uang Singapore. Bibi ini kampungan lah.. nggak tahu uang Singapore.’
‘Iya, ya… Bibi ini kampungan nggak tahu uang Singapore. Kalau Bibi kampungan, adik yang tahu uang Singapore namanya apa?’
‘Ya, orang Bataman lah…’
Grr..grr… kami semua tergelak mendengar istilah Bataman dari Brein. Ada-ada saja…
Kamis, 25 November 2010
Keseimbangan baru telah tercapai
Hari ini, genap satu quarter tanpa assisten rumah tangga. Sebagai seorang ibu bekerja hampir 11 jam dilalui di luar rumah. Rasa gamang sempat menyelimutiku ketika akan memulai semua ini. Apakah aku bisa menyeimbangkan antara kerja, tanggung jawab di rumah dan yoga?
Tapi aku punya keyakinan, semua pasti bisa dengan bantuan dan kerja sama yang baik dari anak-anakku.
Awalnya, semua masih terasa mudah, karena saat itu kami masih menjalankan ibadah puasa dan anak-anak libur sekolah. Masak hanya untuk sahur dan tidak perlu menyiapkan makan siang. Sedangkan sore hari, meskipun tidak ada perubahan jam pulang kerja, namun masih tersisa 1 jam sebelum waktu berbuka, ini sudah lebih dari cukup untuk menyiapkan hidangan berbuka. Bahkan, kami masih sempat mengunjungi pasar kaget di deretan ruko dekat rumah walaupun terkadang hanya untuk melihat ramainya kegiatan jual beli.
Minggu ketiga, ketika kegiatan sekolah dimulai lagi, dimulai juga kesibukan yang lebih karena selain menyiapkan sarapan, aku juga harus menyiapkan bekal ke sekolah dan lauk untuk makan siang di rumah. Hari Minggu menjadi hari sibuk untuk menyiapkan makanan siap masak.
Terkadang, tanpa ku minta, Brein atau Hagi membantuku memanir ikan, udang atau ayam.
Kalau boleh jujur sih, mending tidak dibantuin sama anak-anak.. he.. he.. he... Dapur jadi lebih kotor karena ceceran telur dan tepung panir. Tapi kan tidak boleh berpikir jangka pendek dong, toh, dapur kotor bisa dibersihkan bersama-sama, tapi empati tidak bisa dibangun dalam waktu semalam.
Pernah suatu hari, Brein protes karena aku tidak bisa menemaninya bermain computer. Katanya,'Sudahlah, bunda, jangan sibuk di dapur terus...ayo temani adik, kita main sama-sama'. Hm... kalau sudah begini, segera kutinggalkan semua pekerjaanku di dapur dan sibuk dengan Brein.
Dan entah sejak kapan ini dimulai, yang jelas, setiap hari Sabtu, aku dedikasikan semua waktuku untuk anak-anak. Tidak ada jadwal berkotor-kotor di dapur bahkan hanya untuk cuci piring... Manir-memanir di hari Minggu-pun sudah tidak kulakukan lagi. Ikan, udang, sotong dan ayam, hanya dicuci lalu dibungkus menjadi beberapa bungkus ukuran satu kali masak dan langsung masuk freezer. Weekday, tinggal ambil dan masak, simple dan cepat.
Yang terakhir adalah Yoga. Kegiatan yang selalu kulakukan 2x seminggu sepulang kerja ini, terhenti ketika memasuki bulan puasa dan setelah 2 minggu puasa berakhir, aku belum aktif lagi di kelas Yoga. Selain tempat latihan yang lama belum jelas kapan mulai lagi, aku masih berat meninggalkan Brein.
Akhirnya, berdasarkan diskusi kami berdua, Brein memilih untuk menemaniku Yoga. Melihat karakter Brein yang tidak bisa diam menunggu dalam waktu lama, aku takut Brein akan bosan menunggu selama lebih dari 60 menit.
Tapi sudahlah, apa salahnya dicoba. Aku bawa beberapa jenis cemilan kesukaannya untuk digunakan sebagai pembunuh waktu. Tiga kali kedatangan, semua baik-baik saja. Bahkan beberapa teman di kelas Yoga, memuji Brein karena sabar menungguku. Hanya bagaimanapun juga, Brein kurang nyaman dengan kondisi ini. Dia yang lebih suka loncat-loncat, lari sana lari sini, main scooter dari ruang depan ke dapur, main bola, akhirnya nyerah juga.
Brein tidak mau lagi menemaniku dan memilih menungguku di rumah, tapiii...yang namanya cemilan tetap harus disiapkan. Kata Brein,'Bunda, adik tunggu aja di rumah sambil makan makanan yang Bunda bawa.'
Sudah 4 minggu berlalu dan Brein merasa nyaman dengan arrangement yang disiapkan ketika aku sedang mengikuti kelas Yoga.
Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang bisa kupanjatkan, karena semuanya berjalan lancar. Perubahan yang terjadi sudah membawa satu keseimbangan baru.
Jadi, jangan takut untuk berubah...
Sstt... tapi ini belum berlaku untuk berubah haluan dalam hal pekerjaan... xi xi xi...
Tapi aku punya keyakinan, semua pasti bisa dengan bantuan dan kerja sama yang baik dari anak-anakku.
Awalnya, semua masih terasa mudah, karena saat itu kami masih menjalankan ibadah puasa dan anak-anak libur sekolah. Masak hanya untuk sahur dan tidak perlu menyiapkan makan siang. Sedangkan sore hari, meskipun tidak ada perubahan jam pulang kerja, namun masih tersisa 1 jam sebelum waktu berbuka, ini sudah lebih dari cukup untuk menyiapkan hidangan berbuka. Bahkan, kami masih sempat mengunjungi pasar kaget di deretan ruko dekat rumah walaupun terkadang hanya untuk melihat ramainya kegiatan jual beli.
Minggu ketiga, ketika kegiatan sekolah dimulai lagi, dimulai juga kesibukan yang lebih karena selain menyiapkan sarapan, aku juga harus menyiapkan bekal ke sekolah dan lauk untuk makan siang di rumah. Hari Minggu menjadi hari sibuk untuk menyiapkan makanan siap masak.
Terkadang, tanpa ku minta, Brein atau Hagi membantuku memanir ikan, udang atau ayam.
Kalau boleh jujur sih, mending tidak dibantuin sama anak-anak.. he.. he.. he... Dapur jadi lebih kotor karena ceceran telur dan tepung panir. Tapi kan tidak boleh berpikir jangka pendek dong, toh, dapur kotor bisa dibersihkan bersama-sama, tapi empati tidak bisa dibangun dalam waktu semalam.
Pernah suatu hari, Brein protes karena aku tidak bisa menemaninya bermain computer. Katanya,'Sudahlah, bunda, jangan sibuk di dapur terus...ayo temani adik, kita main sama-sama'. Hm... kalau sudah begini, segera kutinggalkan semua pekerjaanku di dapur dan sibuk dengan Brein.
Dan entah sejak kapan ini dimulai, yang jelas, setiap hari Sabtu, aku dedikasikan semua waktuku untuk anak-anak. Tidak ada jadwal berkotor-kotor di dapur bahkan hanya untuk cuci piring... Manir-memanir di hari Minggu-pun sudah tidak kulakukan lagi. Ikan, udang, sotong dan ayam, hanya dicuci lalu dibungkus menjadi beberapa bungkus ukuran satu kali masak dan langsung masuk freezer. Weekday, tinggal ambil dan masak, simple dan cepat.
Yang terakhir adalah Yoga. Kegiatan yang selalu kulakukan 2x seminggu sepulang kerja ini, terhenti ketika memasuki bulan puasa dan setelah 2 minggu puasa berakhir, aku belum aktif lagi di kelas Yoga. Selain tempat latihan yang lama belum jelas kapan mulai lagi, aku masih berat meninggalkan Brein.
Akhirnya, berdasarkan diskusi kami berdua, Brein memilih untuk menemaniku Yoga. Melihat karakter Brein yang tidak bisa diam menunggu dalam waktu lama, aku takut Brein akan bosan menunggu selama lebih dari 60 menit.
Tapi sudahlah, apa salahnya dicoba. Aku bawa beberapa jenis cemilan kesukaannya untuk digunakan sebagai pembunuh waktu. Tiga kali kedatangan, semua baik-baik saja. Bahkan beberapa teman di kelas Yoga, memuji Brein karena sabar menungguku. Hanya bagaimanapun juga, Brein kurang nyaman dengan kondisi ini. Dia yang lebih suka loncat-loncat, lari sana lari sini, main scooter dari ruang depan ke dapur, main bola, akhirnya nyerah juga.
Brein tidak mau lagi menemaniku dan memilih menungguku di rumah, tapiii...yang namanya cemilan tetap harus disiapkan. Kata Brein,'Bunda, adik tunggu aja di rumah sambil makan makanan yang Bunda bawa.'
Sudah 4 minggu berlalu dan Brein merasa nyaman dengan arrangement yang disiapkan ketika aku sedang mengikuti kelas Yoga.
Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang bisa kupanjatkan, karena semuanya berjalan lancar. Perubahan yang terjadi sudah membawa satu keseimbangan baru.
Jadi, jangan takut untuk berubah...
Sstt... tapi ini belum berlaku untuk berubah haluan dalam hal pekerjaan... xi xi xi...
Minggu, 03 Oktober 2010
Hukuman atau Konsekuensi?
Pernah seorang teman bertanya apakah aku pernah menghukum anak-anakku.
Hm... hukuman untuk anak-anakku harus bersifat mendidik, jauh dari kekerasan dan paling tidak berusaha untuk membangun karakter yang mempunyai tanggung jawab.
Awalnya, sebagai bundanya, aku harus menunjukkan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Jika yang tidak benar dilanggar, maka akan ada konsekuensi dari pelanggaran.
Contoh kasus pertama adalah ketika Hagi (yang ketika itu baru berumur 2 tahun) jadi senang menumpahkan air dengan sengaja.
Konsekuensi logis adalah membersihkan tumpahan air. Tapi, saat itu harapanku tidaklah terlalu muluk, asal dia mau ambil lap lalu 'membersihkan' genangan air sudah cukup.
Ya... apa sih yang bisa diharapkan dari anak umur 2 tahun pada saat membersihkan genangan air?
Terkadang, konsekuensi dari tindakan yang menyalahi aturan, kami diskusikan bersama. Biasanya, aku lebih memilih menghilangkan kebiasaan yang disukainya karena kalau tidak hukuman yang diambil tidak akan memberikan efek jera.
Misalnya, jika Hagi berlaku kasar kepada si mbak, maka Hagi tidak boleh nonton VCD apapun dan juga TV selama 1 minggu.
'Bunda, tapi bagaimana kalau nanti adik yang sedang dihukum tidak boleh nonton TV, aku jadi tidak bisa nonton TV juga donk.'
Itu pertanyaan Hagi (3 tahun) ketika tahu bahwa dia akan mempunyai seorang adik.
Enam tahun berlalu dan ternyata aku juga harus melakukan adjustment agar tindakan yang kuambil tidak merugikan salah satu diantara mereka.
Dan aku memang harus terus belajar....
Hm... hukuman untuk anak-anakku harus bersifat mendidik, jauh dari kekerasan dan paling tidak berusaha untuk membangun karakter yang mempunyai tanggung jawab.
Awalnya, sebagai bundanya, aku harus menunjukkan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Jika yang tidak benar dilanggar, maka akan ada konsekuensi dari pelanggaran.
Contoh kasus pertama adalah ketika Hagi (yang ketika itu baru berumur 2 tahun) jadi senang menumpahkan air dengan sengaja.
Konsekuensi logis adalah membersihkan tumpahan air. Tapi, saat itu harapanku tidaklah terlalu muluk, asal dia mau ambil lap lalu 'membersihkan' genangan air sudah cukup.
Ya... apa sih yang bisa diharapkan dari anak umur 2 tahun pada saat membersihkan genangan air?
Terkadang, konsekuensi dari tindakan yang menyalahi aturan, kami diskusikan bersama. Biasanya, aku lebih memilih menghilangkan kebiasaan yang disukainya karena kalau tidak hukuman yang diambil tidak akan memberikan efek jera.
Misalnya, jika Hagi berlaku kasar kepada si mbak, maka Hagi tidak boleh nonton VCD apapun dan juga TV selama 1 minggu.
'Bunda, tapi bagaimana kalau nanti adik yang sedang dihukum tidak boleh nonton TV, aku jadi tidak bisa nonton TV juga donk.'
Itu pertanyaan Hagi (3 tahun) ketika tahu bahwa dia akan mempunyai seorang adik.
Enam tahun berlalu dan ternyata aku juga harus melakukan adjustment agar tindakan yang kuambil tidak merugikan salah satu diantara mereka.
Dan aku memang harus terus belajar....
Minggu, 22 Agustus 2010
Daftar Belanja
Matahari sudah mulai tergelincir ketika si mbak menanyakan menu apa yang mau disiapkan untuk berbuka nanti sore.
Mendengar pembicaraan kami, Brein segera menyahut,'mbak, mana buku yang dibuat untuk bikin kue itu?'
Memang beberapa hari lalu, si mbak dan Brein mencoba salah satu resep kue kering yang berasal dari sisipan salah satu majalah terbitan nasional beberapa tahun lalu.
'Kenapa dik? Kan kuenya masih ada?'
'Bukan, aku mau tunjukkan ke bunda resep yang dulu kata bunda mau dibuat kalau bahannya sudah ada.'
Akhirnya mereka berdua bersama-sama membongkar tumpukan majalah di bawah TV set.
'Bunda, ini bunda, resep yang adik mau,' kata Brein sambil menunjuk resep Chicken Drum Stick.
'Ayo kita baca bahan-bahanny,'kataku,'Sayap ayam ada?'
'Tidak ada'
'Merica ada?'
'Tidak ada'
'Telor ada?'
'Tidak ada'
'Kecap asin ada?'
'Tidak ada'
'Garam ada?'
'Ada', dst....
'Jadi ada 4 bahan bunda yang belum ada, sayap ayam, merica, telor dan kecap asin'
'Oke,'lanjutku,'sekarang, ambil kertas dan pensil, catat apa yang harus dibeli ya'
Tak berapa lama, Brein sudah sibuk mencatat bahan-bahan yang belum ada untuk dibeli nanti.
Dan ketika sudah sampai di dalam salah satu hypermarket di Batam, Brein tiba-tiba bertanya,'Bunda, kertas adik tadi nggak ketinggalan kan? Ya, kan Bunda?'
'Tidak,' kataku sambil mengeluarkan kertas catatan Brein dari dompet hp,'ini, nggak ketinggalan kan.'
Melihat aku memegang kertas catatannya, Brein tersenyum lebar...
Mendengar pembicaraan kami, Brein segera menyahut,'mbak, mana buku yang dibuat untuk bikin kue itu?'
Memang beberapa hari lalu, si mbak dan Brein mencoba salah satu resep kue kering yang berasal dari sisipan salah satu majalah terbitan nasional beberapa tahun lalu.
'Kenapa dik? Kan kuenya masih ada?'
'Bukan, aku mau tunjukkan ke bunda resep yang dulu kata bunda mau dibuat kalau bahannya sudah ada.'
Akhirnya mereka berdua bersama-sama membongkar tumpukan majalah di bawah TV set.
'Bunda, ini bunda, resep yang adik mau,' kata Brein sambil menunjuk resep Chicken Drum Stick.
'Ayo kita baca bahan-bahanny,'kataku,'Sayap ayam ada?'
'Tidak ada'
'Merica ada?'
'Tidak ada'
'Telor ada?'
'Tidak ada'
'Kecap asin ada?'
'Tidak ada'
'Garam ada?'
'Ada', dst....
'Jadi ada 4 bahan bunda yang belum ada, sayap ayam, merica, telor dan kecap asin'
'Oke,'lanjutku,'sekarang, ambil kertas dan pensil, catat apa yang harus dibeli ya'
Tak berapa lama, Brein sudah sibuk mencatat bahan-bahan yang belum ada untuk dibeli nanti.
Dan ketika sudah sampai di dalam salah satu hypermarket di Batam, Brein tiba-tiba bertanya,'Bunda, kertas adik tadi nggak ketinggalan kan? Ya, kan Bunda?'
'Tidak,' kataku sambil mengeluarkan kertas catatan Brein dari dompet hp,'ini, nggak ketinggalan kan.'
Melihat aku memegang kertas catatannya, Brein tersenyum lebar...
Selasa, 27 Juli 2010
Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda....
Sambil menikmati es krim yang kubelikan pulang kerja berdasarkan pesanan adik lewat telpon ketika aku masih di kantor, Brein bercerita.
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Manager Rumah Tangga
Sabtu, 24 Juli 2010
Realisasi Negosiasi
Hari Sabtu pagi diawali dengan mendung. Sudah dua hari terakhir, matahari tidak pernah bersinar lebih dari 2 jam berturut-turut.
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Kamis, 22 Juli 2010
Negosiasi
Makan di Fast Food resto, sudah menjadi salah satu agenda bulanan dalam menghabiskan weekend bersama anak-anak.
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Senin, 19 Juli 2010
Berhitung
Meskipun sudah punya pengalaman membantu Hagi (sekarang kelas 4 SD) dalam mengenal penjumlahan dan pengurangan ketika masih di taman kanak-kanak, tetapi tetap saja aku 'bingung' he.... he... he...
Jurus andalan yang kupakai adalah mengenalkan perhitungan dengan cara susun ke bawah untuk nilai yang lebih dari 10.
Dengan menggunakan white board yang baru saja kubeli, kumulai pengenalan penjumlahan dengan susun ke bawah. Hanya satu kali contoh, Brein bisa langsung mengikuti.
Masalah datang ketika mengenalkan pengurangan. Benar-benar tidak ada ide, bahkan aku juga lupa bagaimana dulu aku mengenalkan ini kepada Hagi.
Ketika aku sedang membantu Brein melakukan pengurangan susun ke bawah, tiba-tiba Brein berkata,'Oh... aku tahu Bunda, begini, Brein punya 6 mainan Ultraman, trus dikasih ke teman-teman 4 mainan, jadi Brein tinggal punya 2 mainan Ultraman, ya.. kan?'
Benar-benar di luar dugaanku...akhirnya semua pengurangan berhasil dikerjakan dengan bantuan ULTRAMAN.
Jurus andalan yang kupakai adalah mengenalkan perhitungan dengan cara susun ke bawah untuk nilai yang lebih dari 10.
Dengan menggunakan white board yang baru saja kubeli, kumulai pengenalan penjumlahan dengan susun ke bawah. Hanya satu kali contoh, Brein bisa langsung mengikuti.
Masalah datang ketika mengenalkan pengurangan. Benar-benar tidak ada ide, bahkan aku juga lupa bagaimana dulu aku mengenalkan ini kepada Hagi.
Ketika aku sedang membantu Brein melakukan pengurangan susun ke bawah, tiba-tiba Brein berkata,'Oh... aku tahu Bunda, begini, Brein punya 6 mainan Ultraman, trus dikasih ke teman-teman 4 mainan, jadi Brein tinggal punya 2 mainan Ultraman, ya.. kan?'
Benar-benar di luar dugaanku...akhirnya semua pengurangan berhasil dikerjakan dengan bantuan ULTRAMAN.
Selasa, 22 Juni 2010
Privacy....
Pagi yang cerah membuka hari ini. Kegiatan hari ini dimulai dengan belanja ke pasar untuk membeli sayur mayur dan ikan.
Dan masih seperti beberapa hari terakhir, harga aneka sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang panjang, tunas kol dijual dengan harga 10 ribu per kilo. Padahal biasanya, kangkung dijual pada harga 5 ribu per kilo, bayam 6 ribu per kilo. Jadi berpikir, bagaimana generasi muda angkatan anak-anakku bisa makan sehat kalau harga sayur mayur sedemikian mahalnya.
Sepulang dari pasar, setelah membereskan belanjaan dan memasukkannya ke dalam kulkas, baru kusadari kalau birthday cake dari sebuah resort masih ada.
Aku segera keluarkan dan ingin membawa sepotong buat 'plain water break' he.. he.. karena aku kurang suka kopi jadi air putih saja yang tentu lebih menyehatkan.
Tiba-tiba berdiri di dekatku dan Hagi bertanya,'Bunda, kok bunda tidak makan cakenya?'
'Lha ini Bunda bawa untuk di kantor.'
Setelah kumasukkan kembali sisa cake di dalam tupperware ke dalam kulkas, aku segera membereskan diri untuk bersiap pergi ke kantor.
Ketika aku sedang check dan re-check isi tas, tiba-tiba Hagi bertanya lagi,'Bunda, aku boleh minta cakenya?'
Sejenak aku terkejut dengan pertanyaan Hagi, dan baru kusadari bahwa ini adalah buah dari apa yang aku ajarkan selama ini. Bahwa kita tidak boleh mengambil benda/barang sesuka hati meskipun kita tahu bahwa benda/barang tersebut adalah milik salah satu anggota keluarga.
Setiap dari kita harus meminta ijin pemilik benda/barang dan baru mengambil/meminjam hanya jika diijinkan.
'Boleh nak, tapi bagi adik juga ya... tidak dihabiskan sendiri'
'Ya, Bunda, makasih'
Dan masih seperti beberapa hari terakhir, harga aneka sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang panjang, tunas kol dijual dengan harga 10 ribu per kilo. Padahal biasanya, kangkung dijual pada harga 5 ribu per kilo, bayam 6 ribu per kilo. Jadi berpikir, bagaimana generasi muda angkatan anak-anakku bisa makan sehat kalau harga sayur mayur sedemikian mahalnya.
Sepulang dari pasar, setelah membereskan belanjaan dan memasukkannya ke dalam kulkas, baru kusadari kalau birthday cake dari sebuah resort masih ada.
Aku segera keluarkan dan ingin membawa sepotong buat 'plain water break' he.. he.. karena aku kurang suka kopi jadi air putih saja yang tentu lebih menyehatkan.
Tiba-tiba berdiri di dekatku dan Hagi bertanya,'Bunda, kok bunda tidak makan cakenya?'
'Lha ini Bunda bawa untuk di kantor.'
Setelah kumasukkan kembali sisa cake di dalam tupperware ke dalam kulkas, aku segera membereskan diri untuk bersiap pergi ke kantor.
Ketika aku sedang check dan re-check isi tas, tiba-tiba Hagi bertanya lagi,'Bunda, aku boleh minta cakenya?'
Sejenak aku terkejut dengan pertanyaan Hagi, dan baru kusadari bahwa ini adalah buah dari apa yang aku ajarkan selama ini. Bahwa kita tidak boleh mengambil benda/barang sesuka hati meskipun kita tahu bahwa benda/barang tersebut adalah milik salah satu anggota keluarga.
Setiap dari kita harus meminta ijin pemilik benda/barang dan baru mengambil/meminjam hanya jika diijinkan.
'Boleh nak, tapi bagi adik juga ya... tidak dihabiskan sendiri'
'Ya, Bunda, makasih'
Senin, 21 Juni 2010
Suwe Ora Jamu....
Hari Sabtu, 19 Jun, adalah hari terakhir UAS Hagi. Kali ini, ujian ditutup dengan ujian menggambar dan menyanyi.
Menurut Hagi, semua murid diminta untuk menggambar jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang), jembatan kebanggan warga Kepri - Kepulauan Riau.
Sedangkan untuk ujian menyanyi, semua murid diminta untuk menyanyikan lagu daerah masing-masing.
Menurut Hagi, meskipun namanya mengandung marga 'Ginting', tapi tetap mau diakui sebagai orang Jawa. Jadi, Hagi ingin menyanyi lagu daerah Jawa.
Ini nih... yang jadi masalah. Selama ini, aku jarang mengajarkan bahasa ibuku. Jadi, aksen, dialek dan logatnya terdengar agak aneh. Dari beberapa lagu yang aku contohkan dari Gundul-Gundul Pacul, Gambang Suling hingga Suwe Ora Jamu, Hagi memilih Suwe Ora Jamu, karena syairnya paling pendek.
Mulailah berlatih menghafal sekaligus memahami nada lagunya.
'suwe ora jamu, jamu godong telo, suwe ora ketemu, temu pisan gawe gelo'
Awalnya aku harus membetulkan pronounce-nya, seperti contohnya 'telo', kata 'te' diucapkan dengan benar, sedangkan 'lo' diucapkan seperti hasil mengeja 'l' - 'o' - 'lo', padahal seharusnya 'lo' diucapkan seperti kata 'lo' di kata 'lolos'
Yang lain adalah kata 'gelo'. 'ge' dibaca seperti 'g'-'e'-'ge', padahal seharusnya seperti 'ge' di kata 'gegar'.
Setelah beberapa kali dilakukan pengulangan, akhirnya syair lagu sudah bisa didengar dengan enak. Bahkan Brein, yang notabene dari awal hanya jadi pendengar, bisa menyanyikan lagu 'Suwe Ora Jamu'.
Bahkan Brein juga bertanya apa maksud dari 'gawe gelo'......
'Ojo gawe gelo Bunda ya.... nak....' :)
Menurut Hagi, semua murid diminta untuk menggambar jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang), jembatan kebanggan warga Kepri - Kepulauan Riau.
Sedangkan untuk ujian menyanyi, semua murid diminta untuk menyanyikan lagu daerah masing-masing.
Menurut Hagi, meskipun namanya mengandung marga 'Ginting', tapi tetap mau diakui sebagai orang Jawa. Jadi, Hagi ingin menyanyi lagu daerah Jawa.
Ini nih... yang jadi masalah. Selama ini, aku jarang mengajarkan bahasa ibuku. Jadi, aksen, dialek dan logatnya terdengar agak aneh. Dari beberapa lagu yang aku contohkan dari Gundul-Gundul Pacul, Gambang Suling hingga Suwe Ora Jamu, Hagi memilih Suwe Ora Jamu, karena syairnya paling pendek.
Mulailah berlatih menghafal sekaligus memahami nada lagunya.
'suwe ora jamu, jamu godong telo, suwe ora ketemu, temu pisan gawe gelo'
Awalnya aku harus membetulkan pronounce-nya, seperti contohnya 'telo', kata 'te' diucapkan dengan benar, sedangkan 'lo' diucapkan seperti hasil mengeja 'l' - 'o' - 'lo', padahal seharusnya 'lo' diucapkan seperti kata 'lo' di kata 'lolos'
Yang lain adalah kata 'gelo'. 'ge' dibaca seperti 'g'-'e'-'ge', padahal seharusnya seperti 'ge' di kata 'gegar'.
Setelah beberapa kali dilakukan pengulangan, akhirnya syair lagu sudah bisa didengar dengan enak. Bahkan Brein, yang notabene dari awal hanya jadi pendengar, bisa menyanyikan lagu 'Suwe Ora Jamu'.
Bahkan Brein juga bertanya apa maksud dari 'gawe gelo'......
'Ojo gawe gelo Bunda ya.... nak....' :)
Bed Time Story by Abang
Seperti biasa, sebelum tidur, Hagi dan Brein selalu minta baca buku cerita terlebih dahulu. Tapi untuk pertama kalinya malam ini, aku meminta Hagi untuk membacakan sebuah buku yang dipilih oleh Brein.
Awalnya, semua berjalan lancar hingga akhirnya ketika halaman yang belum dibaca menyisakan 3 lembar saja.
Brein,'Bunda, abang bacanya tak betul.'
'Tidak betul bagaimana dik? Kan yang dibaca abang sudah benar semua kalimatnya.'
Asumsiku, Brein protes karena isi cerita dibaca tidak sesuai yang biasanya, maklum karena sering dibaca, Brein bisa hafal di luar kepala.
'Bukan, Bunda,'sergah Brein,'Abang bacanya tidak seperti Bunda, dia bacanya pelan-pelan, tidak sekeras Bunda.'
Oalah nak, nak....
Akhirnya sisa cerita aku bacakan hingga mereka berdua tertidur.
Awalnya, semua berjalan lancar hingga akhirnya ketika halaman yang belum dibaca menyisakan 3 lembar saja.
Brein,'Bunda, abang bacanya tak betul.'
'Tidak betul bagaimana dik? Kan yang dibaca abang sudah benar semua kalimatnya.'
Asumsiku, Brein protes karena isi cerita dibaca tidak sesuai yang biasanya, maklum karena sering dibaca, Brein bisa hafal di luar kepala.
'Bukan, Bunda,'sergah Brein,'Abang bacanya tidak seperti Bunda, dia bacanya pelan-pelan, tidak sekeras Bunda.'
Oalah nak, nak....
Akhirnya sisa cerita aku bacakan hingga mereka berdua tertidur.
Sabtu, 12 Juni 2010
Obyektif atau Subyektif
Satu minggu setelah sms try out yang aku terima dari guru Hagi, aku menerima sms lagi.
Kali ini sms dari guru Hagi mengabarkan kalau Hagi mendapat voucher karena masuk 10 besar try out yang diadakan oleh salah satu Bimbel di Batam. Hanya karena sebentar lagi akan menghadapi UAS, jadi kabar ini belum disampaikan ke anak didik yang bersangkutan untuk menghindari rasa senang yang berlebihan sehingga mengendurkan semangat belajar.
Bukan masalah voucher yang belum diberikan ke Hagi, tapi isi sms itu yang menggelitikku 'bu, Hagi masuk 10 besar try out tanggal 5 jun kemarin dari xxxx, jadi dapat voucher tapi untuk sementara saya kasih setelah ujian supaya hagi tidak cepatpuas dengan hasil sekarang. atau ibu mau ambil? tq. ini penilaian dari xxxx, bukan dari saya. jadi benar-benar obyektif.'
Nah lo... jadi selama ini ibu subyektif donk...
Kali ini sms dari guru Hagi mengabarkan kalau Hagi mendapat voucher karena masuk 10 besar try out yang diadakan oleh salah satu Bimbel di Batam. Hanya karena sebentar lagi akan menghadapi UAS, jadi kabar ini belum disampaikan ke anak didik yang bersangkutan untuk menghindari rasa senang yang berlebihan sehingga mengendurkan semangat belajar.
Bukan masalah voucher yang belum diberikan ke Hagi, tapi isi sms itu yang menggelitikku 'bu, Hagi masuk 10 besar try out tanggal 5 jun kemarin dari xxxx, jadi dapat voucher tapi untuk sementara saya kasih setelah ujian supaya hagi tidak cepatpuas dengan hasil sekarang. atau ibu mau ambil? tq. ini penilaian dari xxxx, bukan dari saya. jadi benar-benar obyektif.'
Nah lo... jadi selama ini ibu subyektif donk...
Rabu, 09 Juni 2010
Sarapan malam....
Jam sudah menunjukkan pukul 20:35, waktu dimana anak-anakku sudah bersiap untuk mengakhiri kegiatan hari ini di tempat tidur.
Ketika lampu sudah diredupkan tiba-tiba Brein berkata,'Bunda, ingat ya... jangan lupa seperti tadi malam. Adik mau sarapan malam.'
'Iya, Bunda tidak lupa, adik mau sarapan malam jam berapa?', tanyaku ke Brein.
'Adik mau sarapan malam di jarum panjang di angka 4 dan jarum pendek di angka 4',jawab Brein.
'Oke dik, insya allah, Bunda tidak lupa.'
Istilah sarapan malam mulai dipakai oleh Brein ketika bulan puasa 2009. Waktu itu, ketika kami sedang melaksanakan ibadah sahur, Brein tiba-tiba terbangun dan keluar dari kamar.
Melihat kami sedang bersantap sahur, Brein bertanya kenapa kami makan ketika hari belum terang.
Karena Brein tidak begitu jelas dengan istilah makan sahur, maka aku bilang Bunda sedang sarapan tapi ketika hari masih gelap. 'Oh, Bunda sedang sarapan malam ya..., jadi nanti kalau sudah terang, Bunda tidak sarapan lagi kan?'
'Iya, nak..'
'Adik juga mau sarapan malam', begitu katanya. Padahal kurasa karena sebenarnya Brein kurang senang kalau diminta sarapan sebelum pergi sekolah. Jadi dalam pemikirannya, dengan melakukan sarapan malam, dia tidak perlu harus repot-repot sarapan ketika akan berangkat ke sekolah.
Oalah...nak.. nak...
Ketika lampu sudah diredupkan tiba-tiba Brein berkata,'Bunda, ingat ya... jangan lupa seperti tadi malam. Adik mau sarapan malam.'
'Iya, Bunda tidak lupa, adik mau sarapan malam jam berapa?', tanyaku ke Brein.
'Adik mau sarapan malam di jarum panjang di angka 4 dan jarum pendek di angka 4',jawab Brein.
'Oke dik, insya allah, Bunda tidak lupa.'
Istilah sarapan malam mulai dipakai oleh Brein ketika bulan puasa 2009. Waktu itu, ketika kami sedang melaksanakan ibadah sahur, Brein tiba-tiba terbangun dan keluar dari kamar.
Melihat kami sedang bersantap sahur, Brein bertanya kenapa kami makan ketika hari belum terang.
Karena Brein tidak begitu jelas dengan istilah makan sahur, maka aku bilang Bunda sedang sarapan tapi ketika hari masih gelap. 'Oh, Bunda sedang sarapan malam ya..., jadi nanti kalau sudah terang, Bunda tidak sarapan lagi kan?'
'Iya, nak..'
'Adik juga mau sarapan malam', begitu katanya. Padahal kurasa karena sebenarnya Brein kurang senang kalau diminta sarapan sebelum pergi sekolah. Jadi dalam pemikirannya, dengan melakukan sarapan malam, dia tidak perlu harus repot-repot sarapan ketika akan berangkat ke sekolah.
Oalah...nak.. nak...
Sabtu, 05 Juni 2010
Brein dan huruf
Ketika akhirnya Brein bisa berkata-kata, aku merasa ada perbedaan dengan Hagi. Hagi bisa dengan sangat jelas melafalkan semua huruf dan kata, tapi Brein...
Apakah ini efek samping dari penyakit cacar yang kuderita ketika Brein berumur 7 bulan dalam kandunganku? Tapi bukankah, dokter kandungan yang memeriksaku waktu itu mengatakan bahwa tidak akan ada efek samping karena bukan di trimester pertama?
Memang, untuk Batita, terkadang susah melafalkan huruf 'R' dan 'L'. Tapi Brein, punya lebih banyak huruf yang tidak bisa dilafalkan, misal huruf 'S' yang berada di depan kata misal 's' di susu, 's' di sapi. Tapi untuk 'S' sebagai akhiran, Brein bisa melafakan dengan jelas, seperti kata 'eS' dan 'keraS'.
Huruf yang lain adalah 'M' dan 'K'. Yang aneh, huruf 'K' ini dilafalkan mendekati huruf 'T'.
Tapi ketakutanku sekarang sudah hilang, karena perlahan-lahan, Brein sudah bisa melafalkan huruf-huruf dan kata-kata tersebut dengan benar. Huruf terakhir yang bisa dilafalkan dengan benar adalah 'R' sebelum umurnya menjadi 5 tahun.
Sejak Brein bisa melafalkan huruf 'R', semua kata-kata dengan huruf 'R', maka 'R' akan terdengar dengan lebih jelas. Misalnya 'kiRI', 'ROti' dan 'RUmah'.
Entah sampai kapan 'R' akan dilafalkan dengan nada yang sama... :)
Apakah ini efek samping dari penyakit cacar yang kuderita ketika Brein berumur 7 bulan dalam kandunganku? Tapi bukankah, dokter kandungan yang memeriksaku waktu itu mengatakan bahwa tidak akan ada efek samping karena bukan di trimester pertama?
Memang, untuk Batita, terkadang susah melafalkan huruf 'R' dan 'L'. Tapi Brein, punya lebih banyak huruf yang tidak bisa dilafalkan, misal huruf 'S' yang berada di depan kata misal 's' di susu, 's' di sapi. Tapi untuk 'S' sebagai akhiran, Brein bisa melafakan dengan jelas, seperti kata 'eS' dan 'keraS'.
Huruf yang lain adalah 'M' dan 'K'. Yang aneh, huruf 'K' ini dilafalkan mendekati huruf 'T'.
Tapi ketakutanku sekarang sudah hilang, karena perlahan-lahan, Brein sudah bisa melafalkan huruf-huruf dan kata-kata tersebut dengan benar. Huruf terakhir yang bisa dilafalkan dengan benar adalah 'R' sebelum umurnya menjadi 5 tahun.
Sejak Brein bisa melafalkan huruf 'R', semua kata-kata dengan huruf 'R', maka 'R' akan terdengar dengan lebih jelas. Misalnya 'kiRI', 'ROti' dan 'RUmah'.
Entah sampai kapan 'R' akan dilafalkan dengan nada yang sama... :)
Langganan:
Postingan (Atom)