Suatu siang, dalam suatu perjalanan berangkat sekolah, abang Hagi bercerita kalau dia sudah mendermakan uang sepuluh ribu kepada orang yang datang meminta sumbangan ke rumah kami.
Seingatku waktu itu, Hagi tidak punya uang kecuali selembar lima puluh ribuan yang didapat dari ayahnya beberapa minggu sebelumnya.
‘Kok, abang punya uang? Dari mana?’
‘Kan abang pernah dikasih uang oleh ayah’
‘Iya, tapi kan lima puluh ribuan, kok bisa punya sepuluh ribuan’
Dengan berbelit-belit abang Hagi menjawab cecaran pertanyaan dari bundanya. Akhirnya keluarlah pengakuan,’Sebenarnya yang abang kasih tuh uang lima puluh ribuan, cuma abang takut Bunda marah.’
‘Abang, Bunda senang abang Hagi mau berbagi. Tapi Bunda lebih senang abang memberikan kepada yang membutuhkan secara langsung.’
‘Oh, seperti Bunda beli susu bubuk untuk cucunya ibu tukang cuci di rumah kita itu ya.’
‘Iya, nak, seperti itu. Lain kali jangan diulang ya..’
Dan ketika pada kesempatan lain, saat ibu tukang cuci datang malam-malam menemuiku dan ingin meminjam uang karena ingin memberi uang saku kepada keponakannya yang akan pulang kampung. Abang Hagi bertanya:
‘Ibu itu kenapa Bunda? Tadi pagi dia tanya jam berapa Bunda pulang dari Singapore.’
‘Oh, ibu itu mau pinjam uang untuk keponakannya.’
‘Kasih ajalah Bunda, tidak usah pakai pinjam segala.’
‘Abang, ibu itu mau meminjam karena ingin memberi sesuatu untuk saudaranya, lagipun kita tidak tahu pasti apakah keponakannya perlu dibantu atau tidak.’
Tampilkan postingan dengan label Communication. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Communication. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Februari 2011
Kamis, 03 Juni 2010
BB aka Bau Badan
Siang itu, ketika aku sedang asyik pencet-pencet tuts, seseorang datang menghampiri cubicle-ku. 'Bunda, tadi ketika audit di line, ada PE yang menarikku keluar dari rombongan. Katanya, kasih tau donk temanmu itu, kan sekarang dia yang harus menemani customer kalau lagi audit, masak dari dulu sampai sekarang, BB-nya nggak pernah hilang?'
'Lalu, kenapa sekarang ngomong ke aku? Bilang aja langsung kan lebih baik?'
'Kan Bunda biasanya satu group makan siang dengannya, Bundalah yang ngomong ya...'
Alamak, pikirku. Memang dulu pernah, sebut saja si A yang punya BB 'ehem' ini kirim sms ke aku. Dalam sms-nya si-A pernah ditegur oleh salah seorang teman dekatnya tentang kadang-kadang si A ini punya BB yang lebih menyengat dibanding biasanya.
Waktu itu, kubalas bahwa memang BB bisa lebih menyengat kalau kita sedang haid atau kita habis menyantap sesuatu.
Akan tetapi tidak semua orang, meskipun sedang mempunyai BB menyengat akan mengganggu lingkungan sekitarnya.
Kukatakan waktu itu, kalau si-A ini memang kadang-kadang seperti itu. Saran yang kuberikan waktu itu adalah untuk memakai tawas (http://www.facebook.com/notes/yuyun-linuwari/tips-menghilangkan-bau-badan/398404972669), karena yang kutahu ada beberapa orang yang berhasil menghilangkan BB berkat bantuan tawas.
Tapi rupanya dari hasil diskusiku dengan si-A ini, dia tidak pernah mencoba memakai tawas, terlebih dia juga suka ngemil keju setiap pulang kerja... nah lho...
Dulu di officeku juga ada yang ber-BB tapi sudah resign. Sebenarnya, apakah mereka sendiri tidak merasa bahwa BB-nya menyengat? Sementara, aku sendiri, ketika sedang berolah raga merasa bahwa BB-nya juga berbeda. Ah, entahlah... ngapain juga kupikirkan...
'Lalu, kenapa sekarang ngomong ke aku? Bilang aja langsung kan lebih baik?'
'Kan Bunda biasanya satu group makan siang dengannya, Bundalah yang ngomong ya...'
Alamak, pikirku. Memang dulu pernah, sebut saja si A yang punya BB 'ehem' ini kirim sms ke aku. Dalam sms-nya si-A pernah ditegur oleh salah seorang teman dekatnya tentang kadang-kadang si A ini punya BB yang lebih menyengat dibanding biasanya.
Waktu itu, kubalas bahwa memang BB bisa lebih menyengat kalau kita sedang haid atau kita habis menyantap sesuatu.
Akan tetapi tidak semua orang, meskipun sedang mempunyai BB menyengat akan mengganggu lingkungan sekitarnya.
Kukatakan waktu itu, kalau si-A ini memang kadang-kadang seperti itu. Saran yang kuberikan waktu itu adalah untuk memakai tawas (http://www.facebook.com/notes/yuyun-linuwari/tips-menghilangkan-bau-badan/398404972669), karena yang kutahu ada beberapa orang yang berhasil menghilangkan BB berkat bantuan tawas.
Tapi rupanya dari hasil diskusiku dengan si-A ini, dia tidak pernah mencoba memakai tawas, terlebih dia juga suka ngemil keju setiap pulang kerja... nah lho...
Dulu di officeku juga ada yang ber-BB tapi sudah resign. Sebenarnya, apakah mereka sendiri tidak merasa bahwa BB-nya menyengat? Sementara, aku sendiri, ketika sedang berolah raga merasa bahwa BB-nya juga berbeda. Ah, entahlah... ngapain juga kupikirkan...
Langganan:
Postingan (Atom)