‘Bunda, kalau kita susah, kita harus tetap ingat Allah ya..’, tanya abang Hagi pada suatu hari.
‘Iya, nak. Tapi tidak hanya saat susah, saat senang juga.’
‘Abang, pernah mendapat cobaan yang abang rasa sangat berat..’, katanya dengan nada sedih.
‘Oh, ya…?’
Wah, sungguh aku tidak dapat memperkirakan cobaan berat apa yang dimaksud Hagi.
‘Cobaan apa itu, nak?’
‘Itu, waktu PSP abang hilang. Abang kan sedih, tapi abang tidak marah dan tetap sholat juga berdoa. Dan meskipun kita belum beli lagi, tapi Bunda dapat rejeki dari kost-kostan dan orang sewa ruko.’
Tampilkan postingan dengan label Hagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hagi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Maret 2011
Minggu, 06 Februari 2011
Seni Berbagi
Suatu siang, dalam suatu perjalanan berangkat sekolah, abang Hagi bercerita kalau dia sudah mendermakan uang sepuluh ribu kepada orang yang datang meminta sumbangan ke rumah kami.
Seingatku waktu itu, Hagi tidak punya uang kecuali selembar lima puluh ribuan yang didapat dari ayahnya beberapa minggu sebelumnya.
‘Kok, abang punya uang? Dari mana?’
‘Kan abang pernah dikasih uang oleh ayah’
‘Iya, tapi kan lima puluh ribuan, kok bisa punya sepuluh ribuan’
Dengan berbelit-belit abang Hagi menjawab cecaran pertanyaan dari bundanya. Akhirnya keluarlah pengakuan,’Sebenarnya yang abang kasih tuh uang lima puluh ribuan, cuma abang takut Bunda marah.’
‘Abang, Bunda senang abang Hagi mau berbagi. Tapi Bunda lebih senang abang memberikan kepada yang membutuhkan secara langsung.’
‘Oh, seperti Bunda beli susu bubuk untuk cucunya ibu tukang cuci di rumah kita itu ya.’
‘Iya, nak, seperti itu. Lain kali jangan diulang ya..’
Dan ketika pada kesempatan lain, saat ibu tukang cuci datang malam-malam menemuiku dan ingin meminjam uang karena ingin memberi uang saku kepada keponakannya yang akan pulang kampung. Abang Hagi bertanya:
‘Ibu itu kenapa Bunda? Tadi pagi dia tanya jam berapa Bunda pulang dari Singapore.’
‘Oh, ibu itu mau pinjam uang untuk keponakannya.’
‘Kasih ajalah Bunda, tidak usah pakai pinjam segala.’
‘Abang, ibu itu mau meminjam karena ingin memberi sesuatu untuk saudaranya, lagipun kita tidak tahu pasti apakah keponakannya perlu dibantu atau tidak.’
Seingatku waktu itu, Hagi tidak punya uang kecuali selembar lima puluh ribuan yang didapat dari ayahnya beberapa minggu sebelumnya.
‘Kok, abang punya uang? Dari mana?’
‘Kan abang pernah dikasih uang oleh ayah’
‘Iya, tapi kan lima puluh ribuan, kok bisa punya sepuluh ribuan’
Dengan berbelit-belit abang Hagi menjawab cecaran pertanyaan dari bundanya. Akhirnya keluarlah pengakuan,’Sebenarnya yang abang kasih tuh uang lima puluh ribuan, cuma abang takut Bunda marah.’
‘Abang, Bunda senang abang Hagi mau berbagi. Tapi Bunda lebih senang abang memberikan kepada yang membutuhkan secara langsung.’
‘Oh, seperti Bunda beli susu bubuk untuk cucunya ibu tukang cuci di rumah kita itu ya.’
‘Iya, nak, seperti itu. Lain kali jangan diulang ya..’
Dan ketika pada kesempatan lain, saat ibu tukang cuci datang malam-malam menemuiku dan ingin meminjam uang karena ingin memberi uang saku kepada keponakannya yang akan pulang kampung. Abang Hagi bertanya:
‘Ibu itu kenapa Bunda? Tadi pagi dia tanya jam berapa Bunda pulang dari Singapore.’
‘Oh, ibu itu mau pinjam uang untuk keponakannya.’
‘Kasih ajalah Bunda, tidak usah pakai pinjam segala.’
‘Abang, ibu itu mau meminjam karena ingin memberi sesuatu untuk saudaranya, lagipun kita tidak tahu pasti apakah keponakannya perlu dibantu atau tidak.’
Sabtu, 24 Juli 2010
Realisasi Negosiasi
Hari Sabtu pagi diawali dengan mendung. Sudah dua hari terakhir, matahari tidak pernah bersinar lebih dari 2 jam berturut-turut.
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Kamis, 22 Juli 2010
Negosiasi
Makan di Fast Food resto, sudah menjadi salah satu agenda bulanan dalam menghabiskan weekend bersama anak-anak.
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Selasa, 22 Juni 2010
Privacy....
Pagi yang cerah membuka hari ini. Kegiatan hari ini dimulai dengan belanja ke pasar untuk membeli sayur mayur dan ikan.
Dan masih seperti beberapa hari terakhir, harga aneka sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang panjang, tunas kol dijual dengan harga 10 ribu per kilo. Padahal biasanya, kangkung dijual pada harga 5 ribu per kilo, bayam 6 ribu per kilo. Jadi berpikir, bagaimana generasi muda angkatan anak-anakku bisa makan sehat kalau harga sayur mayur sedemikian mahalnya.
Sepulang dari pasar, setelah membereskan belanjaan dan memasukkannya ke dalam kulkas, baru kusadari kalau birthday cake dari sebuah resort masih ada.
Aku segera keluarkan dan ingin membawa sepotong buat 'plain water break' he.. he.. karena aku kurang suka kopi jadi air putih saja yang tentu lebih menyehatkan.
Tiba-tiba berdiri di dekatku dan Hagi bertanya,'Bunda, kok bunda tidak makan cakenya?'
'Lha ini Bunda bawa untuk di kantor.'
Setelah kumasukkan kembali sisa cake di dalam tupperware ke dalam kulkas, aku segera membereskan diri untuk bersiap pergi ke kantor.
Ketika aku sedang check dan re-check isi tas, tiba-tiba Hagi bertanya lagi,'Bunda, aku boleh minta cakenya?'
Sejenak aku terkejut dengan pertanyaan Hagi, dan baru kusadari bahwa ini adalah buah dari apa yang aku ajarkan selama ini. Bahwa kita tidak boleh mengambil benda/barang sesuka hati meskipun kita tahu bahwa benda/barang tersebut adalah milik salah satu anggota keluarga.
Setiap dari kita harus meminta ijin pemilik benda/barang dan baru mengambil/meminjam hanya jika diijinkan.
'Boleh nak, tapi bagi adik juga ya... tidak dihabiskan sendiri'
'Ya, Bunda, makasih'
Dan masih seperti beberapa hari terakhir, harga aneka sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang panjang, tunas kol dijual dengan harga 10 ribu per kilo. Padahal biasanya, kangkung dijual pada harga 5 ribu per kilo, bayam 6 ribu per kilo. Jadi berpikir, bagaimana generasi muda angkatan anak-anakku bisa makan sehat kalau harga sayur mayur sedemikian mahalnya.
Sepulang dari pasar, setelah membereskan belanjaan dan memasukkannya ke dalam kulkas, baru kusadari kalau birthday cake dari sebuah resort masih ada.
Aku segera keluarkan dan ingin membawa sepotong buat 'plain water break' he.. he.. karena aku kurang suka kopi jadi air putih saja yang tentu lebih menyehatkan.
Tiba-tiba berdiri di dekatku dan Hagi bertanya,'Bunda, kok bunda tidak makan cakenya?'
'Lha ini Bunda bawa untuk di kantor.'
Setelah kumasukkan kembali sisa cake di dalam tupperware ke dalam kulkas, aku segera membereskan diri untuk bersiap pergi ke kantor.
Ketika aku sedang check dan re-check isi tas, tiba-tiba Hagi bertanya lagi,'Bunda, aku boleh minta cakenya?'
Sejenak aku terkejut dengan pertanyaan Hagi, dan baru kusadari bahwa ini adalah buah dari apa yang aku ajarkan selama ini. Bahwa kita tidak boleh mengambil benda/barang sesuka hati meskipun kita tahu bahwa benda/barang tersebut adalah milik salah satu anggota keluarga.
Setiap dari kita harus meminta ijin pemilik benda/barang dan baru mengambil/meminjam hanya jika diijinkan.
'Boleh nak, tapi bagi adik juga ya... tidak dihabiskan sendiri'
'Ya, Bunda, makasih'
Senin, 21 Juni 2010
Suwe Ora Jamu....
Hari Sabtu, 19 Jun, adalah hari terakhir UAS Hagi. Kali ini, ujian ditutup dengan ujian menggambar dan menyanyi.
Menurut Hagi, semua murid diminta untuk menggambar jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang), jembatan kebanggan warga Kepri - Kepulauan Riau.
Sedangkan untuk ujian menyanyi, semua murid diminta untuk menyanyikan lagu daerah masing-masing.
Menurut Hagi, meskipun namanya mengandung marga 'Ginting', tapi tetap mau diakui sebagai orang Jawa. Jadi, Hagi ingin menyanyi lagu daerah Jawa.
Ini nih... yang jadi masalah. Selama ini, aku jarang mengajarkan bahasa ibuku. Jadi, aksen, dialek dan logatnya terdengar agak aneh. Dari beberapa lagu yang aku contohkan dari Gundul-Gundul Pacul, Gambang Suling hingga Suwe Ora Jamu, Hagi memilih Suwe Ora Jamu, karena syairnya paling pendek.
Mulailah berlatih menghafal sekaligus memahami nada lagunya.
'suwe ora jamu, jamu godong telo, suwe ora ketemu, temu pisan gawe gelo'
Awalnya aku harus membetulkan pronounce-nya, seperti contohnya 'telo', kata 'te' diucapkan dengan benar, sedangkan 'lo' diucapkan seperti hasil mengeja 'l' - 'o' - 'lo', padahal seharusnya 'lo' diucapkan seperti kata 'lo' di kata 'lolos'
Yang lain adalah kata 'gelo'. 'ge' dibaca seperti 'g'-'e'-'ge', padahal seharusnya seperti 'ge' di kata 'gegar'.
Setelah beberapa kali dilakukan pengulangan, akhirnya syair lagu sudah bisa didengar dengan enak. Bahkan Brein, yang notabene dari awal hanya jadi pendengar, bisa menyanyikan lagu 'Suwe Ora Jamu'.
Bahkan Brein juga bertanya apa maksud dari 'gawe gelo'......
'Ojo gawe gelo Bunda ya.... nak....' :)
Menurut Hagi, semua murid diminta untuk menggambar jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang), jembatan kebanggan warga Kepri - Kepulauan Riau.
Sedangkan untuk ujian menyanyi, semua murid diminta untuk menyanyikan lagu daerah masing-masing.
Menurut Hagi, meskipun namanya mengandung marga 'Ginting', tapi tetap mau diakui sebagai orang Jawa. Jadi, Hagi ingin menyanyi lagu daerah Jawa.
Ini nih... yang jadi masalah. Selama ini, aku jarang mengajarkan bahasa ibuku. Jadi, aksen, dialek dan logatnya terdengar agak aneh. Dari beberapa lagu yang aku contohkan dari Gundul-Gundul Pacul, Gambang Suling hingga Suwe Ora Jamu, Hagi memilih Suwe Ora Jamu, karena syairnya paling pendek.
Mulailah berlatih menghafal sekaligus memahami nada lagunya.
'suwe ora jamu, jamu godong telo, suwe ora ketemu, temu pisan gawe gelo'
Awalnya aku harus membetulkan pronounce-nya, seperti contohnya 'telo', kata 'te' diucapkan dengan benar, sedangkan 'lo' diucapkan seperti hasil mengeja 'l' - 'o' - 'lo', padahal seharusnya 'lo' diucapkan seperti kata 'lo' di kata 'lolos'
Yang lain adalah kata 'gelo'. 'ge' dibaca seperti 'g'-'e'-'ge', padahal seharusnya seperti 'ge' di kata 'gegar'.
Setelah beberapa kali dilakukan pengulangan, akhirnya syair lagu sudah bisa didengar dengan enak. Bahkan Brein, yang notabene dari awal hanya jadi pendengar, bisa menyanyikan lagu 'Suwe Ora Jamu'.
Bahkan Brein juga bertanya apa maksud dari 'gawe gelo'......
'Ojo gawe gelo Bunda ya.... nak....' :)
Bed Time Story by Abang
Seperti biasa, sebelum tidur, Hagi dan Brein selalu minta baca buku cerita terlebih dahulu. Tapi untuk pertama kalinya malam ini, aku meminta Hagi untuk membacakan sebuah buku yang dipilih oleh Brein.
Awalnya, semua berjalan lancar hingga akhirnya ketika halaman yang belum dibaca menyisakan 3 lembar saja.
Brein,'Bunda, abang bacanya tak betul.'
'Tidak betul bagaimana dik? Kan yang dibaca abang sudah benar semua kalimatnya.'
Asumsiku, Brein protes karena isi cerita dibaca tidak sesuai yang biasanya, maklum karena sering dibaca, Brein bisa hafal di luar kepala.
'Bukan, Bunda,'sergah Brein,'Abang bacanya tidak seperti Bunda, dia bacanya pelan-pelan, tidak sekeras Bunda.'
Oalah nak, nak....
Akhirnya sisa cerita aku bacakan hingga mereka berdua tertidur.
Awalnya, semua berjalan lancar hingga akhirnya ketika halaman yang belum dibaca menyisakan 3 lembar saja.
Brein,'Bunda, abang bacanya tak betul.'
'Tidak betul bagaimana dik? Kan yang dibaca abang sudah benar semua kalimatnya.'
Asumsiku, Brein protes karena isi cerita dibaca tidak sesuai yang biasanya, maklum karena sering dibaca, Brein bisa hafal di luar kepala.
'Bukan, Bunda,'sergah Brein,'Abang bacanya tidak seperti Bunda, dia bacanya pelan-pelan, tidak sekeras Bunda.'
Oalah nak, nak....
Akhirnya sisa cerita aku bacakan hingga mereka berdua tertidur.
Sabtu, 12 Juni 2010
Obyektif atau Subyektif
Satu minggu setelah sms try out yang aku terima dari guru Hagi, aku menerima sms lagi.
Kali ini sms dari guru Hagi mengabarkan kalau Hagi mendapat voucher karena masuk 10 besar try out yang diadakan oleh salah satu Bimbel di Batam. Hanya karena sebentar lagi akan menghadapi UAS, jadi kabar ini belum disampaikan ke anak didik yang bersangkutan untuk menghindari rasa senang yang berlebihan sehingga mengendurkan semangat belajar.
Bukan masalah voucher yang belum diberikan ke Hagi, tapi isi sms itu yang menggelitikku 'bu, Hagi masuk 10 besar try out tanggal 5 jun kemarin dari xxxx, jadi dapat voucher tapi untuk sementara saya kasih setelah ujian supaya hagi tidak cepatpuas dengan hasil sekarang. atau ibu mau ambil? tq. ini penilaian dari xxxx, bukan dari saya. jadi benar-benar obyektif.'
Nah lo... jadi selama ini ibu subyektif donk...
Kali ini sms dari guru Hagi mengabarkan kalau Hagi mendapat voucher karena masuk 10 besar try out yang diadakan oleh salah satu Bimbel di Batam. Hanya karena sebentar lagi akan menghadapi UAS, jadi kabar ini belum disampaikan ke anak didik yang bersangkutan untuk menghindari rasa senang yang berlebihan sehingga mengendurkan semangat belajar.
Bukan masalah voucher yang belum diberikan ke Hagi, tapi isi sms itu yang menggelitikku 'bu, Hagi masuk 10 besar try out tanggal 5 jun kemarin dari xxxx, jadi dapat voucher tapi untuk sementara saya kasih setelah ujian supaya hagi tidak cepatpuas dengan hasil sekarang. atau ibu mau ambil? tq. ini penilaian dari xxxx, bukan dari saya. jadi benar-benar obyektif.'
Nah lo... jadi selama ini ibu subyektif donk...
Langganan:
Postingan (Atom)