Hari ini, genap satu quarter tanpa assisten rumah tangga. Sebagai seorang ibu bekerja hampir 11 jam dilalui di luar rumah. Rasa gamang sempat menyelimutiku ketika akan memulai semua ini. Apakah aku bisa menyeimbangkan antara kerja, tanggung jawab di rumah dan yoga?
Tapi aku punya keyakinan, semua pasti bisa dengan bantuan dan kerja sama yang baik dari anak-anakku.
Awalnya, semua masih terasa mudah, karena saat itu kami masih menjalankan ibadah puasa dan anak-anak libur sekolah. Masak hanya untuk sahur dan tidak perlu menyiapkan makan siang. Sedangkan sore hari, meskipun tidak ada perubahan jam pulang kerja, namun masih tersisa 1 jam sebelum waktu berbuka, ini sudah lebih dari cukup untuk menyiapkan hidangan berbuka. Bahkan, kami masih sempat mengunjungi pasar kaget di deretan ruko dekat rumah walaupun terkadang hanya untuk melihat ramainya kegiatan jual beli.
Minggu ketiga, ketika kegiatan sekolah dimulai lagi, dimulai juga kesibukan yang lebih karena selain menyiapkan sarapan, aku juga harus menyiapkan bekal ke sekolah dan lauk untuk makan siang di rumah. Hari Minggu menjadi hari sibuk untuk menyiapkan makanan siap masak.
Terkadang, tanpa ku minta, Brein atau Hagi membantuku memanir ikan, udang atau ayam.
Kalau boleh jujur sih, mending tidak dibantuin sama anak-anak.. he.. he.. he... Dapur jadi lebih kotor karena ceceran telur dan tepung panir. Tapi kan tidak boleh berpikir jangka pendek dong, toh, dapur kotor bisa dibersihkan bersama-sama, tapi empati tidak bisa dibangun dalam waktu semalam.
Pernah suatu hari, Brein protes karena aku tidak bisa menemaninya bermain computer. Katanya,'Sudahlah, bunda, jangan sibuk di dapur terus...ayo temani adik, kita main sama-sama'. Hm... kalau sudah begini, segera kutinggalkan semua pekerjaanku di dapur dan sibuk dengan Brein.
Dan entah sejak kapan ini dimulai, yang jelas, setiap hari Sabtu, aku dedikasikan semua waktuku untuk anak-anak. Tidak ada jadwal berkotor-kotor di dapur bahkan hanya untuk cuci piring... Manir-memanir di hari Minggu-pun sudah tidak kulakukan lagi. Ikan, udang, sotong dan ayam, hanya dicuci lalu dibungkus menjadi beberapa bungkus ukuran satu kali masak dan langsung masuk freezer. Weekday, tinggal ambil dan masak, simple dan cepat.
Yang terakhir adalah Yoga. Kegiatan yang selalu kulakukan 2x seminggu sepulang kerja ini, terhenti ketika memasuki bulan puasa dan setelah 2 minggu puasa berakhir, aku belum aktif lagi di kelas Yoga. Selain tempat latihan yang lama belum jelas kapan mulai lagi, aku masih berat meninggalkan Brein.
Akhirnya, berdasarkan diskusi kami berdua, Brein memilih untuk menemaniku Yoga. Melihat karakter Brein yang tidak bisa diam menunggu dalam waktu lama, aku takut Brein akan bosan menunggu selama lebih dari 60 menit.
Tapi sudahlah, apa salahnya dicoba. Aku bawa beberapa jenis cemilan kesukaannya untuk digunakan sebagai pembunuh waktu. Tiga kali kedatangan, semua baik-baik saja. Bahkan beberapa teman di kelas Yoga, memuji Brein karena sabar menungguku. Hanya bagaimanapun juga, Brein kurang nyaman dengan kondisi ini. Dia yang lebih suka loncat-loncat, lari sana lari sini, main scooter dari ruang depan ke dapur, main bola, akhirnya nyerah juga.
Brein tidak mau lagi menemaniku dan memilih menungguku di rumah, tapiii...yang namanya cemilan tetap harus disiapkan. Kata Brein,'Bunda, adik tunggu aja di rumah sambil makan makanan yang Bunda bawa.'
Sudah 4 minggu berlalu dan Brein merasa nyaman dengan arrangement yang disiapkan ketika aku sedang mengikuti kelas Yoga.
Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang bisa kupanjatkan, karena semuanya berjalan lancar. Perubahan yang terjadi sudah membawa satu keseimbangan baru.
Jadi, jangan takut untuk berubah...
Sstt... tapi ini belum berlaku untuk berubah haluan dalam hal pekerjaan... xi xi xi...
Tampilkan postingan dengan label Manager Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manager Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 November 2010
Minggu, 03 Oktober 2010
Hukuman atau Konsekuensi?
Pernah seorang teman bertanya apakah aku pernah menghukum anak-anakku.
Hm... hukuman untuk anak-anakku harus bersifat mendidik, jauh dari kekerasan dan paling tidak berusaha untuk membangun karakter yang mempunyai tanggung jawab.
Awalnya, sebagai bundanya, aku harus menunjukkan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Jika yang tidak benar dilanggar, maka akan ada konsekuensi dari pelanggaran.
Contoh kasus pertama adalah ketika Hagi (yang ketika itu baru berumur 2 tahun) jadi senang menumpahkan air dengan sengaja.
Konsekuensi logis adalah membersihkan tumpahan air. Tapi, saat itu harapanku tidaklah terlalu muluk, asal dia mau ambil lap lalu 'membersihkan' genangan air sudah cukup.
Ya... apa sih yang bisa diharapkan dari anak umur 2 tahun pada saat membersihkan genangan air?
Terkadang, konsekuensi dari tindakan yang menyalahi aturan, kami diskusikan bersama. Biasanya, aku lebih memilih menghilangkan kebiasaan yang disukainya karena kalau tidak hukuman yang diambil tidak akan memberikan efek jera.
Misalnya, jika Hagi berlaku kasar kepada si mbak, maka Hagi tidak boleh nonton VCD apapun dan juga TV selama 1 minggu.
'Bunda, tapi bagaimana kalau nanti adik yang sedang dihukum tidak boleh nonton TV, aku jadi tidak bisa nonton TV juga donk.'
Itu pertanyaan Hagi (3 tahun) ketika tahu bahwa dia akan mempunyai seorang adik.
Enam tahun berlalu dan ternyata aku juga harus melakukan adjustment agar tindakan yang kuambil tidak merugikan salah satu diantara mereka.
Dan aku memang harus terus belajar....
Hm... hukuman untuk anak-anakku harus bersifat mendidik, jauh dari kekerasan dan paling tidak berusaha untuk membangun karakter yang mempunyai tanggung jawab.
Awalnya, sebagai bundanya, aku harus menunjukkan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Jika yang tidak benar dilanggar, maka akan ada konsekuensi dari pelanggaran.
Contoh kasus pertama adalah ketika Hagi (yang ketika itu baru berumur 2 tahun) jadi senang menumpahkan air dengan sengaja.
Konsekuensi logis adalah membersihkan tumpahan air. Tapi, saat itu harapanku tidaklah terlalu muluk, asal dia mau ambil lap lalu 'membersihkan' genangan air sudah cukup.
Ya... apa sih yang bisa diharapkan dari anak umur 2 tahun pada saat membersihkan genangan air?
Terkadang, konsekuensi dari tindakan yang menyalahi aturan, kami diskusikan bersama. Biasanya, aku lebih memilih menghilangkan kebiasaan yang disukainya karena kalau tidak hukuman yang diambil tidak akan memberikan efek jera.
Misalnya, jika Hagi berlaku kasar kepada si mbak, maka Hagi tidak boleh nonton VCD apapun dan juga TV selama 1 minggu.
'Bunda, tapi bagaimana kalau nanti adik yang sedang dihukum tidak boleh nonton TV, aku jadi tidak bisa nonton TV juga donk.'
Itu pertanyaan Hagi (3 tahun) ketika tahu bahwa dia akan mempunyai seorang adik.
Enam tahun berlalu dan ternyata aku juga harus melakukan adjustment agar tindakan yang kuambil tidak merugikan salah satu diantara mereka.
Dan aku memang harus terus belajar....
Selasa, 27 Juli 2010
Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda....
Sambil menikmati es krim yang kubelikan pulang kerja berdasarkan pesanan adik lewat telpon ketika aku masih di kantor, Brein bercerita.
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Manager Rumah Tangga
Sabtu, 24 Juli 2010
Realisasi Negosiasi
Hari Sabtu pagi diawali dengan mendung. Sudah dua hari terakhir, matahari tidak pernah bersinar lebih dari 2 jam berturut-turut.
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Kamis, 22 Juli 2010
Negosiasi
Makan di Fast Food resto, sudah menjadi salah satu agenda bulanan dalam menghabiskan weekend bersama anak-anak.
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Sabtu, 05 Juni 2010
Beli eceran atau kulakan?
Dulu, aku tidak begitu paham kenapa ibu terkadang membeli barang yang sama dalam jumlah besar meskipun perlu waktu berbulan-bulan untuk menghabiskan stok.
Sekarang ini ketika aku pada posisi seperti ibu sebagai manager rumah tangga, aku menyadari apa yang dilakukan sebenarnya bagian dari penghematan. Karena membeli dalam jumlah banyak, terkadang konsumen mendapat hadiah barang berupa piring, mangkok atau gelas, juga harga per-pcsnya juga menjadi lebih murah.
Namun, tidak semua barang yang dibeli dalam partai besar akan membuat kita menjadi hemat. Terutama kalau yang dibeli adalah berupa makanan atau minuman. Contohnya, anak-anakku setiap hari maunya minum susu siap minum. Saat ini, Brein sudah bisa beli sendiri ke minimarket di ujung gang. Setiap beli susu yang disukainya, Brein selalu melipatgandakan jumlahnya, karena Brein akan membaginya dengan abangnya.
Sehari kalau dihitung total beli eceran hanya 10 ribu per anak. Akan tetapi kalau aku membeli dalam jumlah banyak, susu siap minum akan habis dalam waktu singkat. Kalau dikonversikan ke dalam rupiah menjadi 14 ribu per anak.
Contoh lain, ketika harga telur per pcs di warung sebelah rumah adalah 1000 rupiah, sementara di supermarket hanya dijual 19900 rupiah per papan, maka sudah semestinya harga per pcsnya akan lebih murah.
Akan tetapi ketika dihitung kembali, biasanya dalam satu bulan hanya menghabiskan 1.5 papan yang dibeli eceran, ini satu papan dari supermarket habis tidak sampai 1 minggu.
Kenapa? Karena ketika lauk yang dihidangkan adalah berbahan dasar ikan, anak-anak akan minta si mbak untuk goreng telur.
Alih-alih mau hemat jadi tidak hemat. Alih-alih sudah menyiapkan berbagai jenis sumber makanan, jadinya yang dimakan tiap hari, ya itu-itu saja.
Jadi, kita harus bijak dalam menentukan mana yang memang menguntungkan dan mana yang malah membuat buntung.
Sekarang ini ketika aku pada posisi seperti ibu sebagai manager rumah tangga, aku menyadari apa yang dilakukan sebenarnya bagian dari penghematan. Karena membeli dalam jumlah banyak, terkadang konsumen mendapat hadiah barang berupa piring, mangkok atau gelas, juga harga per-pcsnya juga menjadi lebih murah.
Namun, tidak semua barang yang dibeli dalam partai besar akan membuat kita menjadi hemat. Terutama kalau yang dibeli adalah berupa makanan atau minuman. Contohnya, anak-anakku setiap hari maunya minum susu siap minum. Saat ini, Brein sudah bisa beli sendiri ke minimarket di ujung gang. Setiap beli susu yang disukainya, Brein selalu melipatgandakan jumlahnya, karena Brein akan membaginya dengan abangnya.
Sehari kalau dihitung total beli eceran hanya 10 ribu per anak. Akan tetapi kalau aku membeli dalam jumlah banyak, susu siap minum akan habis dalam waktu singkat. Kalau dikonversikan ke dalam rupiah menjadi 14 ribu per anak.
Contoh lain, ketika harga telur per pcs di warung sebelah rumah adalah 1000 rupiah, sementara di supermarket hanya dijual 19900 rupiah per papan, maka sudah semestinya harga per pcsnya akan lebih murah.
Akan tetapi ketika dihitung kembali, biasanya dalam satu bulan hanya menghabiskan 1.5 papan yang dibeli eceran, ini satu papan dari supermarket habis tidak sampai 1 minggu.
Kenapa? Karena ketika lauk yang dihidangkan adalah berbahan dasar ikan, anak-anak akan minta si mbak untuk goreng telur.
Alih-alih mau hemat jadi tidak hemat. Alih-alih sudah menyiapkan berbagai jenis sumber makanan, jadinya yang dimakan tiap hari, ya itu-itu saja.
Jadi, kita harus bijak dalam menentukan mana yang memang menguntungkan dan mana yang malah membuat buntung.
Langganan:
Postingan (Atom)