Matahari sudah mulai tergelincir ketika si mbak menanyakan menu apa yang mau disiapkan untuk berbuka nanti sore.
Mendengar pembicaraan kami, Brein segera menyahut,'mbak, mana buku yang dibuat untuk bikin kue itu?'
Memang beberapa hari lalu, si mbak dan Brein mencoba salah satu resep kue kering yang berasal dari sisipan salah satu majalah terbitan nasional beberapa tahun lalu.
'Kenapa dik? Kan kuenya masih ada?'
'Bukan, aku mau tunjukkan ke bunda resep yang dulu kata bunda mau dibuat kalau bahannya sudah ada.'
Akhirnya mereka berdua bersama-sama membongkar tumpukan majalah di bawah TV set.
'Bunda, ini bunda, resep yang adik mau,' kata Brein sambil menunjuk resep Chicken Drum Stick.
'Ayo kita baca bahan-bahanny,'kataku,'Sayap ayam ada?'
'Tidak ada'
'Merica ada?'
'Tidak ada'
'Telor ada?'
'Tidak ada'
'Kecap asin ada?'
'Tidak ada'
'Garam ada?'
'Ada', dst....
'Jadi ada 4 bahan bunda yang belum ada, sayap ayam, merica, telor dan kecap asin'
'Oke,'lanjutku,'sekarang, ambil kertas dan pensil, catat apa yang harus dibeli ya'
Tak berapa lama, Brein sudah sibuk mencatat bahan-bahan yang belum ada untuk dibeli nanti.
Dan ketika sudah sampai di dalam salah satu hypermarket di Batam, Brein tiba-tiba bertanya,'Bunda, kertas adik tadi nggak ketinggalan kan? Ya, kan Bunda?'
'Tidak,' kataku sambil mengeluarkan kertas catatan Brein dari dompet hp,'ini, nggak ketinggalan kan.'
Melihat aku memegang kertas catatannya, Brein tersenyum lebar...
Minggu, 22 Agustus 2010
Minggu, 08 Agustus 2010
Rindu.......
Tit...tit...tit... sebuah sms masuk ke hpnya. Sisca segera membuka dan membaca isinya. Ternyata Lili, adiknya, mengabarkan kalau adik kecil sudah kembali ke kota kelahirannya untuk melanjutkan sekolah di SMA.
Isi sms membuat Sisca kembali ke kejadian beberapa tahun silam, tentang adik kecil, tentang keluarga adik kecil, tentang pertengkarang-pertengkaran di keluarga adik kecil.
====
Untuk kesekian kalinya, Sisca mendengar suara keributan dari rumah sebelah. Hm.. desahnya. Sisca segera beranjak dari keasyikannya membaca buku. Tujuannya satu, ke rumah sebelah. Bukan untuk melerai pertengkaran keluarga muda itu, bukan.. bukan itu tujuannya. Hatinya sudah lama tertancap pada adik kecil, demikian dia menyebut anak perempuan berumur 5 tahun itu. Sejak pertengkaran orang tua adik kecil, yang entah sejak kapan, Sisca sendiri juga lupa, dia selalu berusaha untuk menghibur dan mengasuh si adik kecil di waktu-waktu luang sepulang sekolah. Bahkan bisa dikatakan, Sisca memang sengaja membuat waktu luang.
Lewat pintu samping, Sisca segera menuju kamar adik kecil. Dilihatnya si adik kecil sedang membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Sambil menyambar beberapa mainan, Sisca segera mengendong adik kecil dan menuju dapur untuk memberi tahu pembantu rumah kalau adik kecil akan dibawa ke rumahnya.
Sisca tidak pernah bisa mengerti kenapa pasangan muda itu sibuk bertengkar seakan tidak mempedulikan adik kecil. Pernah suatu hari, Sisca mengungkapkan keinginan kepada orang tuanya untuk mengadopsi adik kecil setelah lulus SMA jika ibu adik kecil mengijinkan.
Namun, sebelum sempat Sisca mengutarakan keinginannya, ibu si adik kecil telah bercerai dan membawa adik kecil pulang ke rumah nenek adik kecil. Kabar terakhir yang dia tahu, ibu adik kecil telah pergi untuk mengadu nasib sebagai TKW di Arab Saudi. Sisca sungguh tidak mengerti, kenapa ibu adik kecil tega meninggalkan anaknya untuk diasuh oleh orang lain.
===
Bertahun-tahun telah berlalu dan kini adik kecil sudah beranjak remaja. Rasa rindu kepada adik kecil membuncah, Sisca ingin segera pulang ke tanah kelahirannya dan bertemu adik kecil.
Isi sms membuat Sisca kembali ke kejadian beberapa tahun silam, tentang adik kecil, tentang keluarga adik kecil, tentang pertengkarang-pertengkaran di keluarga adik kecil.
====
Untuk kesekian kalinya, Sisca mendengar suara keributan dari rumah sebelah. Hm.. desahnya. Sisca segera beranjak dari keasyikannya membaca buku. Tujuannya satu, ke rumah sebelah. Bukan untuk melerai pertengkaran keluarga muda itu, bukan.. bukan itu tujuannya. Hatinya sudah lama tertancap pada adik kecil, demikian dia menyebut anak perempuan berumur 5 tahun itu. Sejak pertengkaran orang tua adik kecil, yang entah sejak kapan, Sisca sendiri juga lupa, dia selalu berusaha untuk menghibur dan mengasuh si adik kecil di waktu-waktu luang sepulang sekolah. Bahkan bisa dikatakan, Sisca memang sengaja membuat waktu luang.
Lewat pintu samping, Sisca segera menuju kamar adik kecil. Dilihatnya si adik kecil sedang membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Sambil menyambar beberapa mainan, Sisca segera mengendong adik kecil dan menuju dapur untuk memberi tahu pembantu rumah kalau adik kecil akan dibawa ke rumahnya.
Sisca tidak pernah bisa mengerti kenapa pasangan muda itu sibuk bertengkar seakan tidak mempedulikan adik kecil. Pernah suatu hari, Sisca mengungkapkan keinginan kepada orang tuanya untuk mengadopsi adik kecil setelah lulus SMA jika ibu adik kecil mengijinkan.
Namun, sebelum sempat Sisca mengutarakan keinginannya, ibu si adik kecil telah bercerai dan membawa adik kecil pulang ke rumah nenek adik kecil. Kabar terakhir yang dia tahu, ibu adik kecil telah pergi untuk mengadu nasib sebagai TKW di Arab Saudi. Sisca sungguh tidak mengerti, kenapa ibu adik kecil tega meninggalkan anaknya untuk diasuh oleh orang lain.
===
Bertahun-tahun telah berlalu dan kini adik kecil sudah beranjak remaja. Rasa rindu kepada adik kecil membuncah, Sisca ingin segera pulang ke tanah kelahirannya dan bertemu adik kecil.
Selasa, 27 Juli 2010
Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda....
Sambil menikmati es krim yang kubelikan pulang kerja berdasarkan pesanan adik lewat telpon ketika aku masih di kantor, Brein bercerita.
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Katanya,"Bunda, hari ini aku tidak terlambat lho. Kemarin, trus kemarinnya lagi juga tidak terlambat".
"Apa ada teman adik yang terlambat?"
"Tidak ada".
Dulu ketika masih di TK-A, Brein masih sering terlambat sehingga gurunya berkomentar biarpun rumahnya dekat, tapi Brein sering terlambat. He.. he... he...
Pada saat itu, aku hanya menanyakan komitmen Brein kapan Brein akan tidak terlambat masuk sekolah. "Nanti, kalau adik sudah TK-B", begitulah jawabannya.
Jadi ketika sudah di TK-B, Brein menepati janjinya.
"Lalu, apa ada teman adik yang masih suka menangis?"
"Ada, tadi Mimi menangis"
"Lho, Mimi kan sudah sekolah dari TK-A, kanapa dia menangis?"
"Iya, tadi ditabrak sama Reva, sampai kepalanya benjol. Makanya Mimi menangis."
"Adik sendiri, apa masih suka menangis?"
"Kemarin adik menangis."
"Apa sebanya adik menangis?"
"Adik kan lari.. eh salah, adik lagi jalan sama Arya sama Iyen, trus ada teman adik yang lari. Dia nabrak adik sampai jatuh, adik nangislah... kan jatuh itu sakit," katanya berusaha menekankan alasannya menangis. Lalu Brein menanyakan sesuatu,"Bunda, ceritalah apa yang Bunda kerjakan di tempat kerja."
"Yang Bunda kerjakan di tempat kerja?"
"iya"
"Yang Bunda kerjakan banyak seperti menulis, mengetik kadang bercerita sama teman-teman Bunda."
"Bunda cerita apa?"
"Bunda cerita, kalau kemarin Bunda minta tolong Brein untuk minta tolong mbak untuk cek air di kamar mandi Bunda, ya kan?"
"Lalu..."
"Ya, Bunda bilang kalau ternyata Brein ingat untuk menyampaikan pesan Bunda. Trus teman Bunda bilang, wah Brein hebat ya... memang Brein sudah SD ya?"
"Brein kan masih TK", celetuk Brein sambil berbinar-binar matanya.
"Iya, Bunda bilang, nggak kok Brein masih TK. Trus kata teman Bunda, wah.. senang ya kalau punya Brein, boleh nggak Brein buat teman Bunda?"
"Trus Bunda jawab apa?" tanya Brein penasaran.
"Bunda bilang, janganlah Brein diminta, nanti aku nggak punya anak bernama Brein."
Brein tersenyum senang mendengar ceritaku. Lalu kutanya,"Kalau Brein sendiri bagaimana? Apa Brein mau dibawa oleh teman Bunda?"
"Kalau adik diurus oleh yang bukan Bunda, adik pasti tidak menurut terus setiap hari... biarpun nanti sudah SD, tetap saja adik tidak menurut."
Oalah nak... nak... apapun yang terjadi, Bunda tidak akan menukarmu dengan apapun di dunia ini.
Good Night son...
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Manager Rumah Tangga
Minggu, 25 Juli 2010
Mahalnya harga kesehatan
Dua minggu yang lalu, aku menerima sms dari kakak iparku kalau mertua kami mengalami pendarahan di mata sebelah kanan.
Setelah berdiskusi dengan anggota keluarga yang lain, akhirnya diputuskan untuk membawa Bibi (begitulah sapaan kami untuk mertua perempuan di adat Karo) operasi mata di Manila tempat kakak iparku bermukim.
Tepat seminggu setelah sms yang pertama kuterima, Bibi menjalani operasi mata dan menurut dokter operasi berjalan lancar dan kemungkinan untuk sembuh 100%. Namun, ada yang harus diperhatikan setelah post operation yaitu untuk sementara harus memakai kaca mata renang dan tidur harus dengan posisi duduk selama 3 minggu.
Yang jelas, 2 hari setelah operasi, jarak pandang yang awalnya hanya 10 cm, sudah bisa berubah menjadi 50 cm. Suatu kemajuan yang luar biasa, selain dari keinginan untuk sembuhlah yang membuat ini menjadi mungkin.
Komplikasi pada mata adalah salah satu dari akibat kelalaian dalam menjaga kadar gula darah pada nilai normal.
Bibi memang sudah lama didiagnosa mempunyai diabetes. Hanya saja, ketika pulang ke kampung setelah sekian lama mengikuti anak tertuanya melanglang buana, tidak ada anggota keluarga di kampung yang mengingatkan, mengontrol dan memantau diet rendah gula.
Hal ini juga aku lihat sendiri ketika akhir tahun lalu kami datang ke Berastagi. Tidak ada pantangan makan, tidak ada pembatasan jumlah makanan dan bahkan mungkin glibenclamide juga lupa dikonsumsi.
Karena Diabetes tidak bisa disembuhkan, hanya dengan mengontrol kadar gula darah, maka kualitas hidup Diabetasi masih bisa dipertahankan.
Setelah berdiskusi dengan anggota keluarga yang lain, akhirnya diputuskan untuk membawa Bibi (begitulah sapaan kami untuk mertua perempuan di adat Karo) operasi mata di Manila tempat kakak iparku bermukim.
Tepat seminggu setelah sms yang pertama kuterima, Bibi menjalani operasi mata dan menurut dokter operasi berjalan lancar dan kemungkinan untuk sembuh 100%. Namun, ada yang harus diperhatikan setelah post operation yaitu untuk sementara harus memakai kaca mata renang dan tidur harus dengan posisi duduk selama 3 minggu.
Yang jelas, 2 hari setelah operasi, jarak pandang yang awalnya hanya 10 cm, sudah bisa berubah menjadi 50 cm. Suatu kemajuan yang luar biasa, selain dari keinginan untuk sembuhlah yang membuat ini menjadi mungkin.
Komplikasi pada mata adalah salah satu dari akibat kelalaian dalam menjaga kadar gula darah pada nilai normal.
Bibi memang sudah lama didiagnosa mempunyai diabetes. Hanya saja, ketika pulang ke kampung setelah sekian lama mengikuti anak tertuanya melanglang buana, tidak ada anggota keluarga di kampung yang mengingatkan, mengontrol dan memantau diet rendah gula.
Hal ini juga aku lihat sendiri ketika akhir tahun lalu kami datang ke Berastagi. Tidak ada pantangan makan, tidak ada pembatasan jumlah makanan dan bahkan mungkin glibenclamide juga lupa dikonsumsi.
Karena Diabetes tidak bisa disembuhkan, hanya dengan mengontrol kadar gula darah, maka kualitas hidup Diabetasi masih bisa dipertahankan.
Sabtu, 24 Juli 2010
Realisasi Negosiasi
Hari Sabtu pagi diawali dengan mendung. Sudah dua hari terakhir, matahari tidak pernah bersinar lebih dari 2 jam berturut-turut.
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Brein bangun dengan lebih gembira hari ini. Sejak pagi, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Mega Mall Batam Center.
Yups... weekend kali ini, kami akan menghabiskan siang dengan makan siang di salah satu tenant di MMBC. Berdasarkan hasil negoisasi 2 hari lalu, yang pertama dibeli adalah paket ayam, nasi plus sup. Yang kedua adalah waffle plus ice cream dengan catatan kalau Brein bisa menghabiskan paket pertama.
Kalau masih juga belum kenyang, baru paket ketiga yaitu chicken strip baru boleh dibeli.
Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya, Brein tidak pernah bisa menghabiskan 1 porsi. Jadi kupikir, kali inipun, seporsi ayam dan sup juga tidak akan habis.
Hanya karena aku tidak ingin Brein kecewa tidak bisa menikmati waffle plus ice cream yang sebenarnya menjadi pilihan pertamanya, akhirnya ketika pesanan pertama siap untuk dinikmati, tanpa sepengetahuan Brein, jatah porsinya aku kurangi sedikit.
Raut muka senang karena merasa sudah menghabiskan satu porsi terlihat di wajahnya. Segera setelah mencuci tangan, Brein berkata,'Ayo bunda, beli waffle yang ada es krimnya..'.
'Beli sama abang ya, bunda tunggu di sini', kataku sambil memberikan selembar uang 50 ribuan.
Tak berapa lama, mereka berdua asyik menikmati seporsi besar waffle. Dasar memang sudah agak kenyang, akhirnya mereka berdua menyerah dan tidak bisa menghabiskan seporsi waffle.
'Sudah nih.... nggak habis? Kalau nggak habis, nggak bisa beli chicken strip lho ya...'
'Sudahlah bunda, chicken stripnya lain kali aja ya...sekarang kita pulang aja, adik sudah kenyang.'
Wkwkwk... paling tidak isi dompetku aman untuk sementara.
Yang terpenting aku berusaha untuk memberi contoh untuk tidak lapar mata.
I love you sons.......
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Kamis, 22 Juli 2010
Negosiasi
Makan di Fast Food resto, sudah menjadi salah satu agenda bulanan dalam menghabiskan weekend bersama anak-anak.
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Kali ini, dua hari menjelang weekend, Brein yang melihat flyer dari salah satu fast food dari Amrik, sudah mulai memilih-milih paket yang ditawarkan. 'Abang, sinilah bang. Coba abang pilih, abang mau yang mana? Adik mau yang ini..'.
Akhirnya, Brein dan Hagi tenggelam dalam kesibukan memilih dan memilah.... mereka sedang berdiskusi menu apa yang sebaiknya dibeli.
Tidak berapa lama, Brein menghampiriku dan katanya,'Bunda, adik mau waffle yang pake es cream ya...'.
Sekilas ku lihat potongan voucher yang ditunjukkan oleh Brein. 'Lalu, abang apa?'
'Abang, mau ayam, tapi adik juga mau yang ini,' ditunjukkannya voucher bergambar chicken strip.
'Sudah ini aja kan...'.
'Abang, abang nggak jadi mau makan burger kan?'
'Nggak...'.
'Oke... coba kesini semua,' pintaku pada Hagi dan Brein.
3 lembar voucher bergambar makanan ku susun di meja menggambar milik Brein. 'Dengarkan bunda ya..., yang pertama dibeli adalah paket ayam dan nasi plus sup, kalau ini habis dimakan, baru beli paket waffle plus ice cream, sudah...'
'kalau waffle sudah habis tapi masih juga belum kenyang, baru boleh beli chicken strip. Bagaimana?'
'Jadi, kapan kita kesana?'
'Hari Sabtu besok ya....'
Label:
Anak-anakku,
Brein,
Hagi,
Manager Rumah Tangga
Senin, 19 Juli 2010
Berhitung
Meskipun sudah punya pengalaman membantu Hagi (sekarang kelas 4 SD) dalam mengenal penjumlahan dan pengurangan ketika masih di taman kanak-kanak, tetapi tetap saja aku 'bingung' he.... he... he...
Jurus andalan yang kupakai adalah mengenalkan perhitungan dengan cara susun ke bawah untuk nilai yang lebih dari 10.
Dengan menggunakan white board yang baru saja kubeli, kumulai pengenalan penjumlahan dengan susun ke bawah. Hanya satu kali contoh, Brein bisa langsung mengikuti.
Masalah datang ketika mengenalkan pengurangan. Benar-benar tidak ada ide, bahkan aku juga lupa bagaimana dulu aku mengenalkan ini kepada Hagi.
Ketika aku sedang membantu Brein melakukan pengurangan susun ke bawah, tiba-tiba Brein berkata,'Oh... aku tahu Bunda, begini, Brein punya 6 mainan Ultraman, trus dikasih ke teman-teman 4 mainan, jadi Brein tinggal punya 2 mainan Ultraman, ya.. kan?'
Benar-benar di luar dugaanku...akhirnya semua pengurangan berhasil dikerjakan dengan bantuan ULTRAMAN.
Jurus andalan yang kupakai adalah mengenalkan perhitungan dengan cara susun ke bawah untuk nilai yang lebih dari 10.
Dengan menggunakan white board yang baru saja kubeli, kumulai pengenalan penjumlahan dengan susun ke bawah. Hanya satu kali contoh, Brein bisa langsung mengikuti.
Masalah datang ketika mengenalkan pengurangan. Benar-benar tidak ada ide, bahkan aku juga lupa bagaimana dulu aku mengenalkan ini kepada Hagi.
Ketika aku sedang membantu Brein melakukan pengurangan susun ke bawah, tiba-tiba Brein berkata,'Oh... aku tahu Bunda, begini, Brein punya 6 mainan Ultraman, trus dikasih ke teman-teman 4 mainan, jadi Brein tinggal punya 2 mainan Ultraman, ya.. kan?'
Benar-benar di luar dugaanku...akhirnya semua pengurangan berhasil dikerjakan dengan bantuan ULTRAMAN.
Langganan:
Postingan (Atom)