Rabu, 09 Juni 2010

Membuat Pivot Table di Microsoft Excel 2007

Ketika pertama kali harus mengolah data dalam jumlah banyak, saya memakai MS Excel. Akan tetapi meskipun hasil pengolahan yang diinginkan dari minggu ke minggu selalu itu-itu saja, proses pengolahan data dengan memakai MS Excel cukup memakan waktu.

Kali kedua, yang saya lakukan adalah memindahkan cara penyimpanan data dari sheet di MS Excel ke dalam MS Access. Sehingga step by step pengolahan data dapat disimpan dalam bentuk query dan ini mempercepat proses pengolahan data weekly.

Namun, meskipun hasil akhir pengolahan data dapat dilakukan dengan cepat, saya harus selalu melakukan revisi terhadap database file bila ada Engineer lain yang membutuhkan data dengan komposisi yang berbeda. Dan ini sangat merepotkan dan membutuhkan waktu penyelesaian selain akan selalu bergantung pada seseorang untuk mendapatkan report yang diinginkan.

Ketika akhirnya komputer kantor diinstal MS Excel 2007 yang sebenarnya lebih rendah versinya dari pada yang kupunya di rumah, toh saya tetap penasaran dengan kelebihan MS Excel 2007 dibanging MS Excel 2003. Salah satunya adalah PIVOT TABLE.
Meskipun di versi 2003, kitapun bisa membuat Pivot Table, akan tetapi di versi 2007 terasa lebih user friendly.

Dalam pembuatan Pivot Table, yang dibutuhkan adalah data source. Data source bisa diambil dari file excel itu sendiri ataupun dari external source.
Demi kepraktisan dalam pengaksesan data oleh user, maka data source disimpan di external data source seperti berupa table di dalam access file. Dan access file disimpan di server sehingga bisa diakses oleh user setiap saat dan data akan selalu up to date.
Selain itu, saya tidak perlu mengganti cara operator melakukan data recording.

Keuntungan dari Pivot Table adalah setiap user bisa memanipulate table sehingga sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa harus request terlebih dahulu.

Berikut ini step by step cara membuat pivot table:
1. Di Ribbon tool bar, pilih tab "Insert"

2. Setelah itu pilih 'PivotTable'

3. Akan muncul pop up window untuk memilih source data yang akan dianalisa

4.1 Jika data yang akan di analisa ada di file yang sama tapi sheet berbeda, maka klik di 'Select a table or range'

4.2 Japi jika data yang akan dianalisa berasal dari external, maka klik di 'Use an external data source'
Setelah itu klik button 'Choose Connection', setelah muncul pop up window yang menunjukkan list connection yang pernah dibuat. Jika connection yang diinginkan tidak ada di dalam list, kita bisa membuat koneksi baru dengan menekan button 'Browse for More' dan pilihlah folder dimana external source data yang diinginkan.

5. Setelah item 4 dilakukan, langkah selanjutnya adalah menekan button 'open' dan dalam tidak waktu yang tidak terlalu lama, kita akan mendapatkan pivot table.

Last but not least, butuh kesabaran dan ketekunan untuk mengeksplorenya. Selamat mencoba.

Sabtu, 05 Juni 2010

Brein dan huruf

Ketika akhirnya Brein bisa berkata-kata, aku merasa ada perbedaan dengan Hagi. Hagi bisa dengan sangat jelas melafalkan semua huruf dan kata, tapi Brein...

Apakah ini efek samping dari penyakit cacar yang kuderita ketika Brein berumur 7 bulan dalam kandunganku? Tapi bukankah, dokter kandungan yang memeriksaku waktu itu mengatakan bahwa tidak akan ada efek samping karena bukan di trimester pertama?

Memang, untuk Batita, terkadang susah melafalkan huruf 'R' dan 'L'. Tapi Brein, punya lebih banyak huruf yang tidak bisa dilafalkan, misal huruf 'S' yang berada di depan kata misal 's' di susu, 's' di sapi. Tapi untuk 'S' sebagai akhiran, Brein bisa melafakan dengan jelas, seperti kata 'eS' dan 'keraS'.

Huruf yang lain adalah 'M' dan 'K'. Yang aneh, huruf 'K' ini dilafalkan mendekati huruf 'T'.

Tapi ketakutanku sekarang sudah hilang, karena perlahan-lahan, Brein sudah bisa melafalkan huruf-huruf dan kata-kata tersebut dengan benar. Huruf terakhir yang bisa dilafalkan dengan benar adalah 'R' sebelum umurnya menjadi 5 tahun.
Sejak Brein bisa melafalkan huruf 'R', semua kata-kata dengan huruf 'R', maka 'R' akan terdengar dengan lebih jelas. Misalnya 'kiRI', 'ROti' dan 'RUmah'.

Entah sampai kapan 'R' akan dilafalkan dengan nada yang sama... :)

Beli eceran atau kulakan?

Dulu, aku tidak begitu paham kenapa ibu terkadang membeli barang yang sama dalam jumlah besar meskipun perlu waktu berbulan-bulan untuk menghabiskan stok.

Sekarang ini ketika aku pada posisi seperti ibu sebagai manager rumah tangga, aku menyadari apa yang dilakukan sebenarnya bagian dari penghematan. Karena membeli dalam jumlah banyak, terkadang konsumen mendapat hadiah barang berupa piring, mangkok atau gelas, juga harga per-pcsnya juga menjadi lebih murah.

Namun, tidak semua barang yang dibeli dalam partai besar akan membuat kita menjadi hemat. Terutama kalau yang dibeli adalah berupa makanan atau minuman. Contohnya, anak-anakku setiap hari maunya minum susu siap minum. Saat ini, Brein sudah bisa beli sendiri ke minimarket di ujung gang. Setiap beli susu yang disukainya, Brein selalu melipatgandakan jumlahnya, karena Brein akan membaginya dengan abangnya.

Sehari kalau dihitung total beli eceran hanya 10 ribu per anak. Akan tetapi kalau aku membeli dalam jumlah banyak, susu siap minum akan habis dalam waktu singkat. Kalau dikonversikan ke dalam rupiah menjadi 14 ribu per anak.

Contoh lain, ketika harga telur per pcs di warung sebelah rumah adalah 1000 rupiah, sementara di supermarket hanya dijual 19900 rupiah per papan, maka sudah semestinya harga per pcsnya akan lebih murah.
Akan tetapi ketika dihitung kembali, biasanya dalam satu bulan hanya menghabiskan 1.5 papan yang dibeli eceran, ini satu papan dari supermarket habis tidak sampai 1 minggu.
Kenapa? Karena ketika lauk yang dihidangkan adalah berbahan dasar ikan, anak-anak akan minta si mbak untuk goreng telur.

Alih-alih mau hemat jadi tidak hemat. Alih-alih sudah menyiapkan berbagai jenis sumber makanan, jadinya yang dimakan tiap hari, ya itu-itu saja.

Jadi, kita harus bijak dalam menentukan mana yang memang menguntungkan dan mana yang malah membuat buntung.

Kamis, 03 Juni 2010

BB aka Bau Badan

Siang itu, ketika aku sedang asyik pencet-pencet tuts, seseorang datang menghampiri cubicle-ku. 'Bunda, tadi ketika audit di line, ada PE yang menarikku keluar dari rombongan. Katanya, kasih tau donk temanmu itu, kan sekarang dia yang harus menemani customer kalau lagi audit, masak dari dulu sampai sekarang, BB-nya nggak pernah hilang?'

'Lalu, kenapa sekarang ngomong ke aku? Bilang aja langsung kan lebih baik?'

'Kan Bunda biasanya satu group makan siang dengannya, Bundalah yang ngomong ya...'

Alamak, pikirku. Memang dulu pernah, sebut saja si A yang punya BB 'ehem' ini kirim sms ke aku. Dalam sms-nya si-A pernah ditegur oleh salah seorang teman dekatnya tentang kadang-kadang si A ini punya BB yang lebih menyengat dibanding biasanya.
Waktu itu, kubalas bahwa memang BB bisa lebih menyengat kalau kita sedang haid atau kita habis menyantap sesuatu.

Akan tetapi tidak semua orang, meskipun sedang mempunyai BB menyengat akan mengganggu lingkungan sekitarnya.
Kukatakan waktu itu, kalau si-A ini memang kadang-kadang seperti itu. Saran yang kuberikan waktu itu adalah untuk memakai tawas (http://www.facebook.com/notes/yuyun-linuwari/tips-menghilangkan-bau-badan/398404972669), karena yang kutahu ada beberapa orang yang berhasil menghilangkan BB berkat bantuan tawas.

Tapi rupanya dari hasil diskusiku dengan si-A ini, dia tidak pernah mencoba memakai tawas, terlebih dia juga suka ngemil keju setiap pulang kerja... nah lho...

Dulu di officeku juga ada yang ber-BB tapi sudah resign. Sebenarnya, apakah mereka sendiri tidak merasa bahwa BB-nya menyengat? Sementara, aku sendiri, ketika sedang berolah raga merasa bahwa BB-nya juga berbeda. Ah, entahlah... ngapain juga kupikirkan...

Rabu, 26 Mei 2010

Berburu Tiket Lebaran

Sebagai ibu bekerja, aku memiliki assisten rumah tangga yang membantuku menjaga anak-anak di waktu siang. Mbak Wati, demikian kami biasa memanggilnya, sudah lama menjadi aspriku, tepatnya sejak Hagi hampir berumur 2 tahun (2003).

Tahun ini adalah tahun ke 2 dan biasanya mbak Wati akan minta ijin pulang kampung. Kali ini, ada yang sedikit berbeda dengan ritual mudik sebelumnya. Hal ini karena sejak awal 2009, sistem penggajian agak berbeda sedikit. Itu karena, setiap bulan, aku sudah memasukkan komponen biaya tiket mudik ke dalam gaji yang diterima tiap bulan.

Awal May, ketika aku sedang browsing tiket ke Surabaya, iseng-iseng aku check juga harga tiket untuk lebaran. Ternyata untuk direct flight harganya sudah 4x lipat dari harga yang kudapatkan untuk keberangkatan 5 May.
Akan tetapi, kalau kita mau bersusah payah memadu padankan jadwal penerbangan yaitu dengan transit di Suta, harga bisa ditekan menjadi 38% dari direct flight.

Hanya saja, meskipun sudah kuyakinkan bahwa harga ini sudah termasuk murah untuk peak seasson, si mbak masih bingung. Akhirnya, si mbak memutuskan untuk menunda pembelian hingga mendekati lebaran.

Namun pada akhirnya si mbak segera membeli tiket karena per akhir May, harganya sudah menjadi 51% dari direct flight meskipun bulan puasa belum mulai apalagi lebaran. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Penjual Rujak

Hari sangat panas, ketika aku melewati kedai rujak. Menurut temanku, rujak di kedai sederhana itu enak. Jadi kupikir, ada baiknya aku cicipin hasil racikan rujaknya.

Seorang ibu yang sudah memasuki usia pensiun menyambutku. Setelah menanyakan apa yang ingin kupesan, si ibu penjual rujak segera meracik pesananku.
Sambil mengulek di cobek batu yang berukuran besar, beliau bercerita bahwasanya untuk orang seusianya, ibu itu merasa nggak nyaman kalau cuma duduk-duduk nggak ada kerjaan.

Ibu ini berasal dari Yogjakarta, tepatnya di lereng gunung kidul. Beliau merantau ke Batam sudah sejak 3 tahun lalu dan tinggal bersama anak, menantu dan cucu perempuannya.
Menurutnya, meracik rujak sudah dijalaninya sejak dahulu kala.

Pembicaraan berlanjut ke masalah pemilu pemilihan kepala daerah langsung yang akan ditutup beberapa menit lagi di pukul 13:00 PM. Ibu penjual rujak memilih untuk tidak memakai hak pilihnya karena menurutnya, siapapun yang dipilih, selama ini tidak terlihat ada perubahan.

Tak berapa lama, rujak pesananku sudah siap. Setelah membayar harga seporsi rujak cingur dan seporsi rujak buah, aku segera meluncur ke rumah.

Jumat, 07 Mei 2010

Reuni Kecil

Mudik mendadak di minggu pertama di bulan May selain diisi untuk urusan keluarga, aku menyempatkan diri menyapa teman-teman lama yang baru aku temukan via facebook.
Dan janji ketemu makan siang di hari keduaku di kampung halaman sudah disepakati.

Hari menjelang siang, ketika aku melangkahkan kaki melewati gerbang Akper. Halaman depan Akper terlihat asri, meskipun ada satu pintu yang tertulis 'Ruang Dosen' tapi sepertinya sudah tidak digunakan lagi untuk jalur keluar masuk.
Untuk sejenak, aku terbengong-bengong mencari pintu masuk. Akhirnya kupilih pintu kaca gelap yang berada di tengah.

Di balik pintu ada lorong pendek dan terlihat tangga ke arah lantai 2. Ketika aku akan mencari dimana pintu menuju ruang dosen, tiba-tiba,"Hei, lha iki wis tekan kene. Lihat, kok sama seperti jaman SMA, nggak ada yang berubah." Itu suara Eny yang ditujukan ke aku dan Marfuah.
Akhirnya temu kangen dilanjutkan di rumah makan. Dari Marfuah, aku mendapatkan contact address teman SMA ku yang sekarang menjadi KaPus.
Bahkan aku dan KaPus sempat saling menelpon si sela-sela makan siang, dan kami berencana untuk pergi bareng ke Surabaya naik kereta api dari Station KA Klakah meskipun pada akhirnya pada hari Jum'at malam rencana itu dibatalkan karena KaPus mendapat undangan meeting mendadak di hari Sabtu.

Sayangnya, aku tidak sempat mengabadikan pertemuan kami dengan kamera.
Next time, aku nggak akan lupa dech...